JAKARTA, Berita HUKUM - Dalam sidang lanjutan tersangka kasus suap Mantan Ketua MK, Akil Mochtar untuk pemenangan sengketa Pemilukada Bupati Gunung Mas terpilih Habith Bintih, dimana terdakwa Cornelis Nalau didudukkan dalam persidangan, dengan menghadirkan dua orang Saksi pengusaha asal Kalimantan Tengah, Elant S. Gaho dan Edwin Permana, yang merupakan rekan terdakwa sesama pengusaha di Kalimantan, yang memberikan pinjaman uang Rp 1 milar untuk menyuap Akli Mochtar.
Dalam keteranganya, saksi menyatakan tidak tahu bahwa, uang yang dipinjamkan terhadap terdakwa saat itu akan digunakan untuk menyuap Ketua MK Akil. Saksi mengatakan mengetahui setelah menonton terdakwa ditangkap KPK dalam berita.
Ketua Majelis Hakim, Suwidyo, juga mempertanyakan kedua saksi karena uang sebesar Rp 1 miliar dipinjamkan, tanpa ada membuat bukti penerimaan.
"Iya, pak hakim kami sudah sering, pernah Rp 100 juta, hingga Rp 500 juta, tidak pakai kwitansi kami percaya saja," ujar Elant di PN Tipikor, Jakarta Selatan, Kamis (6/2).
Bahkan kedua orang saksi kompak meminta ganti uang itu setelah ditanya oleh Ketua Majelis Hakim, Suwidyo. Keduanya mengatakan, duit itu adalah pinjaman dan bukan pemberian dan nanti tergantung putusan dan tuntutan Jaksa serta pembelaan Pengacara terdakwa urai hakim.
Namun, Hakim Ketua Suwidyo kembali mempertanyakan kenapa mereka yakin meminta ganti, karena dalam sebuah persahatan ada resiko yang harus ditangung.
Menurutnya, jika pinjaman itu sebagai tanda persahabatan dan tanpa tanda terima, maka mereka harus sudah siap dengan segala risikonya.
"Kan tadi bilangnya pinjaman karena persahabatan. Berarti kalau persahabatan, ya harus sudah siap dengan risiko pengkhianatan. Kan begitu," ujar Hakim Ketua Suwidyo.
Selanjutnya, Hakim menyakinkan Saksi untuk tidak perlu khawatir karena, terdakwa masih memiliki kebun sawit dan coklat di Kalimantan.
"Ya sudah, silahkan saja, sana salamin semuanya, kalau mau salaman. Nanti kan hutangnya di bayar, masih banyak kebun sawit dan coklatnya, sama kami engak usah salaman," pungkas Hakim Suwidyo sambil mengetuk palu Hakum, guna mensekors sidang 60 menit untuk makan dan sholat.(bhc/put) |