JAKARTA (BeritaHUKUM.com) - Dalam rangka menyambut kebangkitan nasional, sekaligus menyambut kelahiran Pancasila 01 Juni, bertempat di JMC, beberapa waktu lalu, Nation And Character Building Institute (NCBI) mengadakan dialog kebangsaan.
Hadir dalam acara tersebut, Dr.dr.Siti Fadilah Supari,Sp.JP (K), membuka dialog tersebut. Pembicara lain, Eva Kusuma Sundari,MA,MDE (Dewan Pakar GMNI), Pdt. Mindawati Peranginangin,PhD (Sentral Komite Dewan Gereja Sedunia/Pendeta GBKP), Nining Elitos (Ketua Umum Konfederasi KASBI), Drs.Hj. Sastri Yunizarti Bakry,Akt,M.Si (Aktivis Perempuan Sumatera Utara) dan moderator Lidya Natalia Sartono (PP PMKRI).
Para pembicara sepakat bahwa, pentingnya menumbuhkan semangat nasionalisme dalam masa kekinian, sementara itu Siti Fadilah dalam orasinya menegaskan bahwa kelebihan demokrasi kita, karena menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Juliaman Saragih, selaku ketua panitia, sekaligus Ketua/Pendiri NCBI menegaskan bahwa, reformasi yang sejatinya dapat merubah seluruh tata kehidupan kebangsaan menjadi lebih baik, ternyata justru sebaliknya. “Kekuatan gerakan yang dicetuskan lebih dari satu dasawarsa lalu, telah menggelinding dengan liar, tak beraturan dan menabrak apa saja,sekenanya hingga sangat melelahkan.” jelas Ketua NCBI
Sistem yang ada dan berjalan, terasa semakin paradoks saja. Carut marut inipun telah berlangsung cukup lama dan kesulitan yang telah mengkooptasi pikiran secara terus menerus, dapat menjadikan depresi social secara massif.
Makin kuatnya cengkeraman ne-kapitalisme internasional dalam berbagai dimensi, manifestasi, intensitas dan bobotnya. Hutang Indonesia per-April 2012 yang mencapai Rp.1.903,21 triliun atau meningkat Rp.43.78 triliun dibandingkan Maret 2012 (Rp.1.859,43 triliun). Bahkan hasil audit BPK yang dirilis bersama KPK menemukan ada sekitar 500 perjanjian utang yang hilang.
Saatnya kita mendialogkan berbagai ketidakpastian yang mengepung selama ini, agar terdapat suatu pengertian dan solusi. Lebih lanjut Juliaman berkeyakinan bahwa terbentuknya susunan masyarakat dan Negara yang berwatak kerakyatan, yang dalam segala hal menyelamatkan seganap rakyat dan tumpah darah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala bentuk penindasan dan kemiskinan adalah perjuangan yang adil, luhur, suci dan sepenuhnya dilimpahkan menjadi hak dan kewajiban serta tanggung jawab bersama dari seluruh rakyat Indonesia.
Oleh karena itu,jelas Juliaman, NCBI berpandangan saatnya pemimpin bangsa di setiap lapisan mau membuka diri secara jujur, tulus bertindak arif atas nama kecintaannya pada tanah tumpah darah. Saatnya pemimpin bangsa merefleksikan jati diri dan kebijakannya dengan hati dan budi yang jernih kepada satu kepentingan fundamentalis-ideologis, mencapai, mempertahankan dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa sebagaimana termaktub dakan pembukaan UUD 1945.
Indonesia Raya yang terdiri dari puluhan ribu pulau serta ratusan suku bangsa dan bahasa induk masih dipergunakan oleh para penuturnya adalah suatu ansambel dari orchestra Bhineka Tunggal Ika yang amat besar.
“Melalui penyelenggaran dialog kebangsaan ini, kami menegaskan bahwa Kembali Mencintai dan Mneghormati Ibu Pertwi menemukan meomentumnya yang tepat jika memang negeri ini ingin memperoleh kewibawaan, kedaulatan, kemandirian dan kejayaan kembali,” tegas Juliaman.(bhc/rat)
|