ACEH, Berita HUKUM - Diduga bandar Narkoba Fitriadi alias Botak (25), warga Sungai Pauh kecamatan Langsa Barat, saat ini berjuang menantang maut di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD Langsa), akibat diterjang peluru petugas Polisi dari Sat Narkoba Polres Langsa Sabtu (22/6) sekitar pukul 18:30 WIB menjelang Maghrib, di jalan kuala desa tersebut.
Menurut masyarakat di Tempat Kejadian Perkara (TKP), yang tidak mau menyebutkan namanya, pada awak media mengatakan sangat menyayangkan apa yang dilakukan Oknum Polisi yang melakukan penangkapan terhadap Fitriadi tidak sesuai dengan SOP, memang benar kami lihat dia itu lari saat mau ditangkap.
Seharusnya Polisi memberi tembakan peringatan dulu ke udara, lagipula si Botak itu cuma lari, tidak melakukan perlawanan. Hal yang sama juga disampaikan saksi mata L yang melihat lansung penangkapan tersebut, mengatakan, "saya melihat langsung proses penangkapan, pada saat itu korban lari, Oknum Polisi tersebut langsung menembak dua kali, sampai mengenai steling tempat saya jualan dan yang kedua saya tidak tahu persis, yang pasti dua kali tembakan," ujar L.
Amatan awak media ini di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah, saat ini korban (tersangka) Fitriadi masih kritis, akibat diterjang peluru anggota Polisi Sat Narkoba Polres Langsa di tangan, paha, dan perut. Menurut dokter yang menangani operasi tersebut ada 3 proyektil peluru yang dikeluarkan dari bekas tembakan.
Sementara Kapolres Langsa AKBP Hariadi S.Ik melalui Kasat Narkoba Iptu Rafi Darmawan SE, saat dikonfirmasi awak media ini melalui handponenya membenarkan ada penembakan terhadap tersangka Fitriadi alias Botak 25 tahun. "Anggota kita tadi menembaknya," ujar Rafi Darmawan.
Berdasarkan informasi dari masyarakat tersangka memiliki 15 kg ganja dan akan melakukan transaksi pada pukul 18:30 WIB, dan anggota kita langsung melakukan pengintaian dan pada saat penyergapan ditemukan 15 amplop ganja kering siap edar, dan pada saat anggota kita melakukan penangkapan, tersangka Fitriadi merampas senjata petugas.
Sehingga senjata yang dipegang anggota kita meletus mengenai tangan dan tembus ke perut, kemudian tesangka lari, baru anggota kita memberikan satu Kali tembakan peringatan ke udara. Sekitar 35 meter dia lari, baru tersangka berhasil ditangkap. Saat disinggung tentang Kinerja anggota di lapangan tidak sesuai Standar Operasional Polisi (SOP), terkait penembakan terhadap tersangka, Rafi Darmawan mengatakan, "karena merampas senjata," lanjut Rafi lagi.
Hal tersebut sangat bertentangan dengan hasil investigasi awak media ini, dari beberapa warga masyarakat yang melihat langsung aksi penembakan tersebut.(bhc/kar) |