JAKARTA, Berita HUKUM - Hasil survei Segitiga Institute menempatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (55) sebagai tokoh yang paling banyak dipilih untuk menjadi calon Presiden Indonesia dengan latar belakang militer. Gatot berada diurutan tertinggi dengan tingkat elektabilitas mencapai 35,6 persen.
Survei bertajuk ‘Kerinduan Publik Akan Pemimpin Militer’, disampaikan Direktur Eksekutif Segitiga Institute Muhammad Sukron, dilakukan dengan pertanyaan mengerucut pada sosok calon pemimpin berlatar belakang militer.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Aufklarung Institute, Dahroni Agung Prasetyo, kepada wartawan pada, Rabu (3/2) mengatakan, sebenarnya tidak ada masalah dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bila memang mau menjadi Calon Presiden 2019. Sebab, sebagai perwira tertinggi di tubuh TNI, Gatot memang pantas menjadi Capres 2019.
Bila akhirnya nanti Gatot benar-benar maju menjadi Capres, hal itu menurutnya tidak lepas dari peran Jokowi. Presiden Jokowi menunjuk Gatot yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menjadi satu-satunya calon panglima TNI yang diajukan ke DPR.
“Setelah menjadi Panglima, Jokowi memberi panggung politik yang sangat luas kepada Gatot. Gatot misalnya diberikan otoritas untuk mengendalikan harga pangan. Ini luar biasa. Kalau Gatot maju dalam capres, ya salah Jokowi sendiri kasih panggung,” jelas Dahroni.
Agung juga menambahkan, meskipun Gatot diberi panggung politik oleh Jokowi, bukan berarti Gatot akan mau ditekan-tekan untuk tak maju dalam pilpres. Apalagi, Gatot juga mendapat bintang empat dari saat Presiden SBY
"Jadi sah-sah saja Gatot menjadi capres," ungkap Agung.
Terkait dengan pencapresan, ia juga mencatat, perwira tinggi angkatan darat model Gatot tentu tidak akan menjadi orang nomor dua atau cuma cawapres.
“Bisa saja Gatot seperti SBY dulu, dan Jokowi seperti Megawati. Dulu SBY diberi panggung oleh Megawati. Lalu bilang tidak akan nyapres, namun pada akhirnya maju juga dalam pencapresan,” demikian Dahroni.(KarelStefanusRatulangi/aktual/bh/sya) |