Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Wali Nanggroe Aceh
FANAPDS: Malik Mahmud 'Drakula' Rakyat Aceh
Wednesday 06 Nov 2013 07:25:28
 

Ketua Presidium FANAPDS, Hasnawi Ilyas.(Foto: BeritaHUKUM.com/sul)
 
ACEH, Berita HUKUM - Penetapan Qanun Nomor 8 Tahun 2012 tentang Wali Nanggroe Aceh, dan rencana pelaksanaan pengukuhan Malek Mahmud sebagai Wali Nanggroe Aceh, dinilai sangat tidak sesuai dengan semangat Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan amanah Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, 15 Agustus 2005 silam.

"Kami menilai telah terjadi pengkhianatan oleh pihak DPR Aceh terhadap rakyat Aceh," demikian ditegaskan Ketua Presidium FANAPDS, Hasnawi Ilyas, Selasa (5/11).

Karena kewenangan yang dimiliki oleh Wali Nanggroe Aceh melebihi kewenangan pemerintah, serta dalam penjaringannya pun sangat tertutup tanpa harus melalui proses test and proper test, semisal baca Alqur'an selayaknya terhadap pejabat-pejabat lainnya di Provinsi Aceh.

"Secara tegas kami menolak Qanun No.8/2012, dan menolak Malik Mahmud menjadi wali," tegas Awi Juli.

Awi mengatakan, Wali Nanggroe yang dikatakan oleh Pemerintah Aceh mewakili seluruh rakyat Aceh, pada kenyataannya tidak menjawab aspirasi seluruh rakyat. Justru dengan lahirnya Qanun tersebut berpotensi memecah belah rakyat Aceh dan terkesan diskriminasi.

Tak hanya itu, ungkap Awi Juli sapaan akrabnya, lahirnya Wali Nangroe juga menjadi mesin pembunuh ataupun 'Drakula' bagi rakyat Aceh, sebab Wali Nangroe hanya menghabiskan uang rakyat Aceh mencapai Rp 40 M per tahun. Ironisnya lagi, baru-baru ini Pemerintah Aceh menyetujui alokasi anggaran untuk pelaksanaan pelantikan Wali Nangroe Aceh dengan besaran dana senilai Rp 50 miliar.

"Padahal jika berniat, tanpa adanya Wali Nangroe Pemerintah Aceh mampu memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Aceh," tandasnya.

Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Aceh, agar membatalkan Qanun No.8/2012 tentang Wali Nangroe karena hanya menghambur-hamburkan uang rakyat.

Lebih baik Pemerintah Aceh lebih fokus ke arah pembangunan peningkatan pendidikan, jaminan kesehatan, pertanian, perbaikan jalan, perbaikan ekonomi masyarakat dan di sektor lainnya.(bhc/sul).



 
   Berita Terkait > Wali Nanggroe Aceh
 
  Wali Nanggroe Minta Kontestan Pemilu Jaga Keharmonisan
  Manipulasi Sejarah
  Ini Kata Akademisi Unimal Terkait Pengukuhan Wali Nanggroe
  Polda Aceh Berikan Pengamanan Pengukuhan Wali Nanggroe Alasan Politik
  Mantan Combatan Gerakan Aceh Merdeka Tolak Malek Mahmud
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2