JAKARTA, Berita HUKUM - Batu akik yang saat ini menjadi trand dan semakin banyak dicari, mulai dari semua kalangan. Walaupun dulu lebih banyak diminati oleh kaum pria, saat ini kaum wanita pun juga tidak kalah peminatnya, dan penjualannya sudah ramai juga dengan cara online.
Peminat batu akik semakin variatif, mulai dari anak sekolah hingga orang tua, pria dan wanita ungkap salah satu pedagang wanita di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, Kamis (12/3).
Tika, wanita penjaga kios batu akik, mengatakan, menjual batu akik ini, memang kita ngerasain sih perubahannya. Dulu peminat batu ini, memang kebanyakan bapak-bapak tua. Tetapi udah dua tahun ini, pembelinya bervariasi, misalnya anak remaja juga membeli dan mencari cincin kecil yang dijadikan sebagai aksesori. Untuk ibu-ibu, biasanya mereka membeli kalung dan gelang," ujarnya.
Selain itu seorang pembeli pun ikut bercerita bahwa, ia berminat memakai batu akik, karena saat ini menjadi zaman batu akik dan tren yang dipakai banyak orang mengunakan cincin batu akik.
"Awalnya sih saya melihat, batu akik itu udah tadinya kaya cincin yang suka dipakai dukun-dukun gitu ya. Tapi saya lihat di sekarang ini udah banyak modelnya, dan akhirnya saya tertarik untuk membelinya juga," ungkap Rina, salah seorang pembeli di Pasar Rawa Bening.
Sedangkan, Maryan salah seorang penjual batu akik dari Pamulang, Tangerang Selatan, yang mengaku menjual dengan cara online di www.BatuAKIKori.com
Klik situs mengatakan, "Sekarang emang zamannya batu, lebih baik gila batu dari pade gila 'sabu', atau gile judi, atau gila lain yang gak karuan, karena yang penting bisnis ngebul, tapi ya asal jangan lupa waktu n ibadah aja gitu," jelasnya.
Sementara, dilansir pada situs Detik yang menuliskan bahwa, demam batu akik sedang melanda masyarakat di Indonesia, dari tua-muda menggemari batu cincin akik. Untuk mencari batu akik di Indonesia tidak terlalu susah, karena umumnya wilayah daratan di Tanah Air merupakan daerah pegunungan api dari Sabang sampai Merauke.
"Batu akik itu ada di seluruh daerah di Indonesia, mungkin yang tidak ada itu cuma di Jakarta, karena nggak ada gunungnya, yang ada hanya 'Gunung Sahari'," ucap Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, kepada detikFinance, Kamis (12/3).
Batu akik bisa ditemukan di berbagai daerah Indonesia yang banyak aktivitas vulkanik atau gunung berapi, bahkan Indonesia terkenal sebagai wilayah cincin api. Aktivitas vulkanik di bawah tanah ini terdapat magma cair, yang terus mencari ruang untuk naik ke atas permukaan bumi.
Bila magma cair yang panasnya lebih dari 1.000 derajat celsius ini berhasil keluar, maka terjadi gunung berapi yang meletus mengeluarkan larva cair yang panas. Namun, bila magma cair ini hanya bisa naik melalui permukaan tanah, magma ini membeku dan berbentuk batuan yang mengkristal menjadi batu akik.
"Di Aceh banyak ditemukan batu akik karena ada aktivitas gunung berapinya, Nusa Tenggara Barat dan Timur juga banyak aktivitas vulkaniknya. Kalau di Kalimantan dulu ada aktivitas vulkanik yang naik ke atas permukaan, makanya di Kalimantan banyak ditemukan intan," ujarnya.
Walaupun keberadaan batu akik ini ada dipermukaan tanah, namun tidak serta merta ketika ditemukan giok di satu daerah, maka di sekitar daerah itu banyak ditemukan batu giok lainnya. Alasannya batu-batu akik ini bisa berpindah tempat dan berpencar karena terbawa air.
"Biasanya tidak mengelompok seperti jenis tambang lainnya, batu bara atau emas dan sebagainya yang bergerombol kemudian digali menjadi sesuatu tambang, bahkan batu-batu akik itu tertransport ya, seperti di sungai-sungai," katanya.
Surono mengatakan, batu akik banyak ditemukan di permukaan tanah, tanpa harus menggali cukup dalam tak seperti layaknya mencari emas, yang harus menggali sangat dalam dan mengeruk tanah dalam jumlah besar. Bahkan batu akik banyak ditemukan di permukaan sungai-sungai berbatu.
Saat ini beberapa jenis batu akik yang populer di Indonesia antara lain batu bacan, safir, zamrud, ruby, giok, kecubung, dan banyak lagi lainnya.
Ia mengatakan jenis batu akik ini, lebih populer di kawasan Asia, seperti Tiongkok, dan Indonesia. Orang Eropa lebih suka dengan batu yang dipoles dan membentuk suatu seni yang sangat bagus, bukan berbentuk batu cincin seperti di Asia.
"Saya punya teman-teman Eropa itu lebih suka hiasan etnik, batu permata yang dibentuk patung, bangunan dan karya seni lainnya yang indah," jelas Surono.(dbs/detik/bhc/yun)