JAKARTA, Berita HUKUM - Dewan Pembina Hadana Ayub Basalamah mengatakan, hampir seluruh masyarakat Indonesia mengerti akan capaian yang sudah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama memimpin bangsa Indonesia. Ia pun menyakini bahwa masyarakat Indonesia masih mengharapkan kepemimpinan Jokowi kembali menjadi presiden untuk periode 2019-2024.
Hal itu disampaikan Ayub menanggapi soal do'a dan puisi yang diucapkan Neno Warisman (artis kondang/ustazah) saat acara malam munajad 212 yang digelar di Monas, Jakarta (21/2) lalu.
"Tentunya kita bukan masyarakat yang tidak mengerti, masyarakat kita sudah cerdas sehingga tau apa isi makna toleransi. Jadi apa hasil tanggapan dari rakyat ya kita buktikan saja nanti di 17 April," ujar Ayub, di restoran Raden Bahari, Jalan Warung Jati Barat, Buncit, Jakarta Selatan, Minggu (3/3).
Menurut Ayub, hasil dan kinerja kepemimpinan Jokowi sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan Jokowi masih dibutuhkan untuk memimpin Indonesia lebih maju.
"Bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia atau rakyat Indonesia masih mencintai pak Jokowi," tukasnya.
Ditempat sama, Ketua Hadana Habib Syahrir atau akrab sapaan Habib Syahdu mengatakan, do'a yang diucapkan Neno Warisman tidak merepresentasikan situasi dan keadaan di Indonesia. Bahwa, lanjut Habib Syahdu, kondisi Indonesia saat ini (Pilpres 2019) baik-baik saja dan bukan situasi yang mengkhawatirkan atau situasi perang yang sesungguhnya.
"Apakah Indonesia dalam keadaan 'perang'?, Tidak!!. Siapapun yang menang (pilpres), baik dari 01 atau 02, Indonesia tetap bersatu dengan mayoritas umat yang beragama dan masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai Pancasila yang diawali dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa," lugasnya.
Untuk itu, Habib Syahdu mengajak masyarakat dan seluruh umat berdo'a demi persatuan dan kesatuan bangsa, serta ikut mewujudkan Indonesia damai dan bermartabat.
"Ya Allah, tolong jadikanlah negara ini yang aman dan karuniakan negeri ini dengan rizkiMu. Dan inilah Indonesia. Kita akan selalu tetap bersatu dan tetap Jaya," do'a Habib Syahdu.
Sebagai informasi, do'a dan puisi yang diucapkan Neno Warisman dan viral di pemberitaan itu menjadi kontroversi karena dianggap berisi ancaman. Neno mengatakan dalam puisi yang dibaca di Munajat 212 adalah do'a yang sering dibacanya. Dan dia hanya membawakan diri berdo'a sebagaimana biasanya.
Puisi Neno awalnya ramai di media sosial karena dianggap 'mengancam Tuhan'. Puisi tersebut juga dikritik langsung oleh Cawapres 01 Ma'ruf Amin karena mengandaikan pilpres seperti 'Perang Badar'.
"Pilpres kok jadi kayak perang badar. Perang badar itu kan perang habis-habisan, hidup mati. Kita kan hanya memilih pemimpin," kata Ma'ruf di Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (23/2) lalu.
Berikut isi potongan puisi Neno Warisman yang beredar tersebut:
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu.(bh/amp)
|