JAKARTA, Berita HUKUM - Hutan memiliki fungsi lain sebagai tempat penelitian, sumber ilmu pengetahuan, sarana pendidikan, tujuan pariwisata, bahkan serta merta untuk rekreasi. Selain sebagai bagian ekosistem yang berfungsi bagi paru-paru dunia dan penampung karbondioksida (CO2), dengan tata pengelolaan tertentu.
Namun, keberadaan hutan di Indonesia kian berkurang karena penebangan liar dan kebakaran. Seiring dengan berjalannya waktu, Holcim Indonesia merupakan produsen semen bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan reklamasi di lokasi bekas tambang pasir silika milik Holcim Indonesia Cibadak, Sukabumi dan menjadikannya sebagai Holcim Educational Forest (HEF). Komitmen terhadap keberlanjutan termasuk di bidang lingkungan.
Semenjak 2010, Holcim Educational Forest memiliki 52 jenis tanaman yang dalam pengembangannya berpotensi dapat memberikan manfaat dari aspek ekonomi, pendidikan maupun sosial bagi masyarakat sekitar.
Beberapa jenis tanaman seperti kaliandra, pinus, aghatis, akasia, pakulata, trembesi dan suren merupakan jenis tanaman yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi aspek ekonomi seiring dengan pemanfaatannya.
Untuk aspek pendidikan, jenis tanaman langka seperti kayu putih, sapu tangan, angsana, khaya dapat memberikan manfaat sebagai sarana penelitian.
Dari aspek sosial, tanaman jenis sengon merupakan jenis tanaman yang menjadi pilihan bagi Holcim Indonesia untuk mengajak peran serta masyarakat sekitar akan pentingnya peduli lingkungan hidup. Selain itu, ada juga tanaman jenis puspa dan bambu yang dipertahankan keberadaannya karena merupakan tanaman asli dari Cibadak, Sukabumi.
Hutan pendidikan yang mulai dibuka untuk umum pada tahun 2013 ini, telah dikunjungi hampir 3,800 orang dari berbagai macam kalangan untuk penelitian, pelatihan, dan tinjauan lapangan.
Holcim Educational Forest memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang berkunjung. Mulai dari pelajar baik tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, masyarakat setempat, media, pemerintah, hingga dosen peneliti dari luar negeri seperti Selandia Baru pernah mengunjungi area ini.
Human Wicaksono, Mine Closure Project Manager Holcim Indonesia mengatakan bahwa, "Ini sebagai bentuk kepedulian bagi lingkungan hidup, kami juga mengajak pengunjung turut berpartisipasi menanam pohon," katanya.
Area ini dikembangkan diatas lahan seluas ± 65 hektar, area bekas tambang ini beralih fungsi menjadi hutan pendidikan yang mengusung konsep pembangunan berkelanjutan.
Sebelum proses penanaman dimulai, berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui kualitas tanah yang sesuai dengan jenis tanamannya. Sebab jenis tanah yang ada di Holcim Educational Forest memiliki karakter yang berbeda-beda. "Kami telah melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis tanaman apa yang paling cocok tumbuh di setiap sudut lahan reklamasi, sehingga mempermudah kami dalam melakukan penanaman," ulas Human.
"Pengelolaan lahan ini pada waktu mendatang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Sebagai perusahaan yang pertama kali melakukan reklamasi area tambang menjadi hutan pendidikan di Indonesia,"jelasnya
Kegiatan reklamasi area tambang ini didasari oleh visi besar Holcim Indonesia untuk membangun solusi berkelanjutan bagi masyarakat.
"Kami mengharapkan hal serupa dapat dilakukan oleh perusahaan lainnya yang bergerak di bidang pertambangan untuk turut berperan serta dalam kepedulian terhadap lingkungan hidup dan juga membangun hutan pendidikan yang dapat berguna bagi masyarakat luas," pungkas Human Wicaksono.(hc/bh/mnd)
|