Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Kepahlawanan
JJ Rizal: Generasi Muda Alami Krisis Kepahlawanan
2016-11-17 14:08:13
 

Ilustrasi. Sejarawan JJ Rizal.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Tiap saat kita selalu bertanya, apakah generasi muda kita masih mewarisi nilai-nilai kepahlawanan. Pertanyaan itu tidak gampang untuk menjawabnya. Karena realitasnya, jangankan yang muda, yang tua saja sudah tidak memiliki dan mewarisi nilai-nilai kepahlawanan.

Buktinya, sangat susah mencari sosok dari golongan tua yang bisa menjadi tauladan bagi generasi muda. Jangankan masyarakat umum, bagi para pemimpin saja, mereka tidak mengingat lagi pahlawannya. Misalnya saja, ada pemimpin yang salah menyebut tempat kelahiran Presiden Soekarno.

Pernyataan itu disampaikan sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal saat menjadi narasumber diskusi Empat Pilar MPR yang berlangsung di press room parlemen, pada Senin (14/11). Bersama anggota MPR RI FPKB KH. Jazilul Fawaid MAg keduanya membahas tema Implementasi Hari Pahlawan dan Mengenali Kembali Jati Diri Bangsa.

Ketidak pahaman mereka terhadap para pahlawan, membuat mereka tidak berprilaku, bersikap dan berfikiran sebagaimana pahlawan, salah satunya Sokarno.

"Bagaimana mereka bisa mewarisi jiwa kepahlwanan kalau pahlawannya sendiri tidak mereka kenali", kata JJ Rizal menambahkan.

Karena kesulitan mencari tauladan dari orang yang masih hidup, menurut JJ Rizal, sebagian orang mencoba menghidupkan orang mati untuk menjadi tauladan. Mereka inila yang digali pemikiran dan kehidupannya agar bisa ditauladani oleh generasi muda.

"Yang pasti kita prihatin, karena generasi muda kita mengalami krisis kepahlawanan. Mereka tidak bisa mengambil ketauladanan dari orang-orang yang sekarang masih hidup", kata Rizal menambahkan.

Sementara KH. Jazilul Fawaid S.Q., M.A. antara lain mengatakan, antara hari pahlawan dan hari Santri 22 Oktober, memiliki kaitan yang sangat erat. Pada 22 Oktober dikobarkan semangat jihat, dan 10 November arek Surabaya melawan penjajahan. Karena itu tidak salah jika heroisme dan kepahlawanan dikatakan bernula dari kesantrian.

Pancasila menurut Jazilul merupakan karya original dari Islam nusantara. Karena itu antara Islam dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Apalagi Islam di Indonesia tidak sama dengan Islam di Saudi, Arab atau Mesir. Karena Islam di Indonesia sudah melalui akulturasi budaya.

"Agar Indonesia maju, Islamnya harus maju terlebih dulu. Agar Islam maju, maka majukan dulu nilai-nilai pancasila", kata Jazilul menambahkan.(MPR/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2