JAKARTA, Berita HUKUM - Kepala Staf Angkatan Laut Laksmana TNI Ade Supandi, S.E memimpin Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Komandan Korps Marinir dari Mayor Jenderal TNI (Mar) Achmad Faridz Washington kepada Brigadir Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana, bertempat di Lapangan Apel Bhumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (28/4).
Mayjen TNI (Mar) Ahmad Faridz Washington selanjutnya akan menjabat sebagai Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI. Sedangkan Brigjen TNI (Mar) Buyung Lalana seperti yang kita ketahui, memiliki tanda jasa Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Jasena Nararya, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Dharma Samudera, Satya Lencana Kesetiaan VIII, Satya Lencana Kesetiaan XVI, Satya Lencana Dwija Sistha, dan Satya Lencana Dharma Nusa.
KSAL mengatakan, pergantian jabatan itu merupakan perwujudan dinamika organisasi, sehingga diharapkan tercipta suasana baru dan ide cemerlang serta pemikiran baru dalam menjalankan tugas, sebab Marinir merupakan satuan strategis dalam menghadapi tantangan keamanan dari laut menuju daratan.
Prajurit Marinir harus bisa mengatasi atau menangkis isu maupun serangan terorisme, imigran gelap, dan peredaran narkoba yang saat ini menjadi isu regional. Marinir perlu melakukan penanggulangan teror baik di laut maupun darat.
“Perkembangan potensi konflik dan ancaman global semakin nyata. Jabatan Korps Marinir merupakan jabatan strategis bagi TNI AL maupun TNI secara keseluruhan. Karena terdapat tanggung jawab pembentukan moral prajurit,” demikian disampaikan KSAL dalam pidato sambutannya.
Oleh karena itu, Marinir juga akan dilengkapi persenjataan canggih. Alat utama sistem senjata (alutsista) yang canggih akan membantu Marinir dalam menjawab tantangan tersebut. “Di tahun 2014 Marinir dilengkapi 54 unit tank BMP 3F dan 15 kendaraan amfibi LVT-A1 dan PT-76M. Dan di tahun 2015 ini, Marinir akan ditambah roket multi laras,” jelas KSAL.
Penambahan alutsista super canggih diperlukan untuk menjawab tantangan sekaligus mewujudkan program poros maritim, yang digagas pemerintah dan untuk menjaga keutuhan maritim Indonesia.
Marinir harus berperan aktif dalam mengawal poros maritim. Oleh karena itu perlu komandan yang mampu menjawab tantangan global, sekaligus menyelaraskan program poros maritim.
Penugasan Jenderal Marinir yang mempunyai kepedulian terhadap pelestarian terumbu karang ini, antara lain, Satgas. Keris Timor Timur 1984, Satgas Sapu Jagat Timor Timur 1986, Satgas Cakra KTT Asean di Filipina 1987, Latsitarda Nusantara 88 Kalimantan Barat, Satgas Kosektor I Ambon 2001, Satgas Muara dan Perairan II NAD 2004, dan Satgas Delegasi RI On Counter Of Terrorism 2011.
Upacara sertijab dimeriahkan dengan Demonstrasi beladiri militer, ‘cavalery movement’, terjun payung, tim panahan Marinir serta defile pasukan serta kendaraan tempur Korps Marinir.
Upacara digelar dengan melibatkan 3.852 personel Marinir dengan latar belakang berbagai macam dan jenis material tempur yang dimiliki Korps Marinir. Material tempur yang menjadi latar belakang pasukan antara lain, 4 unit BMP-3F, 10 unit PT-76 M, dua unit LVT-A1, dua unit BVP-2, dua unit Howitzer 122, dua unit Howitzer 155, dua unit Meriam 57, dua unit Unimog, dua unit Reo, dua unit Sea Rider, dua unit Roket Multi Laras 70 Grad.(bh/yun) |