JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Polri memastikan tidak ada kelompok teroris di Indonesia yang merencanakan menyerang Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Pasalnya, sepanjang pengungkapan kasus terorisme, tidak ada kelompok yang mengarahkan sasarannya kepada Kepala Negara adi daya tersebut
Demikian disampaikan Kabag Penum Polri, Kombes Pol. Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/11). Pernyataan ini terkait dengan kedatangan Obama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Nusa Dua, Bali, pada 17-19 Nopember mendatang. Ia dijadwalkan Obama akan mendarat di Bali pada 16 Nopember nanti.
“Sepanjang pengungkapan jaringan teror yang ada sampai yang terakhir ini, termasuk yang di Cirebon, tidak terungkap adanya kegiatan atau menyentuh atau menargetkan unsur-unsur atau tamu dari negara-negara asing. Tapi kami akan tetap waspada dan meningkatkan operasi intelijen," kata dia,
Hal ini diperlihatkan dengan menurunkan sekitar 2.300 personel Polri dan TNI serta Paspampres yang disiagakan untuk mengamankan KTT itu. Bahkan, menjelang kedatangan Obama, akan diterjunkan Satgas Densus 88 Antiteror Polri untuk mendeteksi ancaman teror yang mungkin terjadi.
“Jadi, hingga kini Kepolisian dan aparat lainnya terus bekerja untuk melakukan penyelidikan terhadap berbagai informasi terkait adanya ancaman teror ini. Kegiatan KTT masih minggu depan, tapi sejak beberapa hari lalu, tim kami memamtau terus di lapangan untuk mengantisipasi (kemungkinan adanya teror) ini," imbuh dia.
Pengamanan Obama sendiri akan menjadi tanggung jawab TNI dan Paspampres. Kedua unsur ini akan berkoordinasi langsung dengan pengamanan khusus AS, Security Service (SS). Sebagian petugas SS telah mendarat di Bali bersama peralatan canggih mereka. “Secara keseluruah dari hasil evaluasi dan pemantauan Polri, situasi keamanan cukup kondusif. Tapi potensi ancaman teror bisa terjadi kapan saja,” tandas Boy.
Diungkapkan pula, sebagian personel keamanan dari Polda Bali dan Mabes Polri akan bertugas melakukan pengamanan rute yang akan dilalui tamu VVIP, tempat akomodasi, lokasi KTT, penginapan tamu, hingga aktifitas yang kegiatan berkaitan dengan dan di luar KTT. “Tempat wisata juga dijaga, karena sangat mungkin mereka juga melakukan kunjungan ke tempat wisata," katanya.(tnc/bie)
|