JAKARTA, Berita HUKUM - Koalisi masyarakat Sipil untuk kebebasan dan berkeyakinan
melalui Imam Shofwan menggagas petisi No Awards To SBY, Juga SETARA Intitute For Democracy And Peace, di Century Hotel Atlet Jakarta Pusat, Kamis (23/5).
Hadir dalam pertemuan ini, Abdul Mu'ti, Alissa Wahid, Romo Benny Susetyo, Gomar Gultom, Hendardi, Imdadun Rahmat, Jalaludin Rahmat, Palti Panjaitan dan Tudung Mulia Lubis.
Menangapi Sekretaris Kabinet Dipo Alam tampak emosi prihal surat pastor Franz Magnis-Suseno kepada Appeal of Conscience Foundation, yang mempertanyakan dasar penghargaan kepada Susilo Bambang Yudhoyono.
Hendardi mengatakan penghargaan yang akan di berikan Appeal of Conscience Foundation, kepada SBY, merupakan tamparan kepada korban kekerasan di Indonesia, yaitu Ahmadiyah dan Syah dan Minoritas lain di Indonesia.
"Yang menilai Presiden menjalankan tugas kontitusional bukanya pihak luar, namun yang tidak tahu tentang keadaan Bangsa ini ialah para korban, berharap agar SBY lebih tau diri," ujar Hendardi.
"Kejadiaan di Indonesia kekerasan terhadap Ahmadiyah, Syah, GKI Yasmine, ini tidaklah lebih kejam dari kejadian di Myanmar, dan ini salah satu bukti pelanggaran Hak Asasi Manusia, apakah penghargaan ini patut atau tidak, seharusnya pemberi Awards ini mempelajari yang dalam biar dia tau ada pembakaran, dan pembantaian terhadap penganut Ahmadiyah, Syah," ujar Todung Mulia Lubis seorang pengacara senior.
Di tambahkanya SBY seharusnya minta, kepada Kapolri, dan Kejagung untuk menindak semua pelaku kekerasan, dan biasanya SBY sangat bijaksana, dan harus mempunyai sikap tegas dia agar mampu menghadapi sikap anarkis, kepada kelompok-kelompok minoritas.
Kelompok ekstrim di biarkan, merajalela di Indonesia dan melakukan kekerasan terhadap minoritas, SBY akan di beri penghargaan dan saya merasa malu, saya meminta pada ACF, agar menunda pemberian penghargaan kepada SBY," ujar Sofyan.
Dipo Alam dan bahkan Dino Djalal tak terima SBY disebut tak memperhatikan intoleransi yang dialami minoritas agama di Indonesia.?
“Saya merasa Dipo Alam salah memahami surat Romo Magnis. Jika Romo Magnis memberi kritik pada ACF bukanlah untuk mencerca, namun untuk koreksi bersama apakah SBY sudah layak mendapat penghargaan pembela toleransi?” ujar Imam Shofwan.
Imam Shofwan merupakan pemuda yang berhasil menggalang 5000 orang lebih dukungan melalui petisi di www.change.org/natoSby.
?
Bagi Imam, pernyataan Dipo Alam juga sangat emosional seperti terlihat pada kicauan twitter Dipo Alam @dipoalam49, yang mengatakan.
“Umaro, ulama dan umat Islam di Indonesia secara umum sudah baik, mari lihat ke depan, tidak baik pimpinannya dicerca oleh Non-Muslim FMS.”? twit Dipo.
Di jelaskan Imam “Sebagai orang Islam, saya sedih baca kicauan seorang pejabat negara, yang seakan-akan hendak mengadu domba umat Muslim dengan pastor Franz Magnis-Suseno,” ujar Imam kembali.
Di tambahkanya Tidak pantas kicauan itu muncul dari orang semacam Dipo Alam.
?
Adapun ribuan dukungan petisi berasal dari berbagai propinsi. Imam menyesalkan, Dipo Alam maupun duta besar Indonesia di AS, Dino P. Djalal, tak melihat realitas utuh.
Dipo Alam mengatakan kekerasan terhadap Ahmadiyah sudah terjadi sejak era Jepang.
“Dipo benar namun dia tak melihat bahwa kekerasan tersebut meningkat drastis sejak Presiden Yudhoyono menguatkan aturan batasan kegiatan Ahmadiyah pada Juni 2008” lanjut Imam.?
?
Soalnya bukan melihat sejarah sebagai pembenaran atas kekerasan hari ini. Tapi maukah kita belajar dari sejarah yang berdarah tersebut dan mengatur kehidupan hari ini dengan dasar kemanusiaan yang beradab.
Juga Imam Shofwan, yang merupakan putra seorang kyai Nahdlatul Ulama, mengajak publik mendukung petisi www.change.org/natoSBY?.(bhc/put)
|