ACEH, Berita HUKUM - Ajang demokrasi 5 tahunan sudah di depan pintu. Hampir setiap hari terdengar rentetan kekerasan, penganiayaan, pemukulan, pembakaran armada, sampai pada pembunuhan terhadap politisi partai terus terjadi di bumi serambi Mekkah Aceh tercinta.
"Kita sangat mengutuk kekerasan bentuk apapun, apalagi korbannya saudara seumat dan seagama, serta sebangsa," tegas Ketua Achenes Australia Association (AAA), Tgk Sufaini Syekhy, terkait tewasnya kader PNA di Aceh Selatan, Selasa (4/3).
Sebagaimana diberitakan, Faisal (40) salah satu calon legislatif dari Partai Nasional Aceh (PNA), Meukek, Aceh Selatan, diberondong senjata laras panjang oleh orang tak dikenal (OTK), Minggu (2/3). Korban menghembuskan nafas terakhir ketika dilarikan ke RSUD Yulidin Away.
Menurut mantan elit GAM Australia ini, insiden tersebut indikasi bahwa kondisi Aceh tidak kondusif terutama menjelang pemilu. Syekhy mengatakan, indikator utamanya adalah hadirnya partai yang telah menghancurkan persatuan rakyat Aceh, dan yang menyebabkan sesama anak bangsa bertikai hanya gara-gara ingin merebut kekuasan untuk mencari jabatan.
"Kami desak Polda Aceh untuk secepatnya mengungkap dan menangkap, serta menindak tegas kepada pelaku penembakan itu," Syekhy menegaskan.
Ia bersama Lembaganya menyebutkan, akan tetap komit untuk mengawasi perdamaian Helsinky di Aceh, dan mengutuk keras semua kekerasan yang terjadi dan mengorbankan rakyat. Dengan semakin meluasnya kekerasan bersenjata di Aceh ini, masyarakat jangan tinggal diam. Masyarakat harus berani melaporkan kepada aparat berwajib untuk mempercepat pengungkapan kasus kriminal tersebut, termasuk apabila ada hal-hal yang mencurigakan dan mengancam perdamaian Aceh.
Dalam hal ini, Pemerintah Aceh sebagai milik seluruh masyarakat Aceh harus bisa membawa ke situasi yang aman, damai dan harus bisa menghentikan kekerasan di Aceh yang semakin tidak terkendali karena perbedaan politik. Ia juga menyayangkan, mengapa Wali Nanggroe yang katanya sebagai simbol pemersatu rakyat Aceh, justru diam ketika rakyat terpecah belah.
Untuk itu, Syekhy mengajak mahasiswa, ulama, mantan TNA, dan elemen lainnya untuk bersatu melawan kezaliman ini. Ia juga meminta masyarakat di Pemilu 9 April mendatang, untuk tidak memilih Caleg yang diusung dari "Partai Anarkis".(bhc/sul) |