JAKARTA, Berita HUKUM - Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) memenuhi lapangan Tugu Proklamasi Jakarta untuk memperingati Kirab Peringatan Resolusi Jihad ke-70 yang diselenggarakan oleh PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), serta menyambut penetapan Hari Santri Nasional yang baru ditetapkan Presiden Jokowi yang jatuh pada hari, Kamis (22/10).
Acara tersebut dibuka langsung oleh Sekjen PBNU Helmi Faizal Zaeni. Tujuan dari dikukuhkannya Hari Santri Nasional ini adalah untuk mempersatukan umat Islam, baik itu santri di Indonesia serta ormas-ormas Islam dan non Islam, sehingga tercipta kerukunan antar umat beragama. Tak hanya itu saja, para tokoh agamapun ikut hadir dalam acara tersebut.
Dalam pidato pembukaannya, Sekjen PBNU Helmi Faizal Zaeni, mengatakan, “Ada13 ormas-ormas baik dari partai Islam maupun non Islam yang hadir dalam acara hari santri. Nanti InsyaAllah tepat pukul 10 kemudian dilanjutkan jalan ke Masjid Istiqlal Jakarta, untuk mengikuti pembukaan serta penetapan hari santri nasional.”
Pantauan pewarta BeritaHUKUM.com di lokasi, dengan penuh semangat para Santri mengikuti acara ini dengan khidmat. Baik santri kecil dan dewasa, juga ikut memenuhi Tugu Proklamasi.
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo terlihat hadir bersama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga hadir ditemani kadernya, Abdul Kadir Karding.
Dalam sambutannya, Panglima TNI menyampaian, kaum santri sudah berperan sejak era penjajahan. "Para santri berperan saat melawan penjajah. Tanpa adanya santri, kiranya tidak ada hari pahlawan," ujar Gatot Nurmantyo, Kamis, (22/10).
Gatot Nurmantyo juga mengatakan, alasan TNI hadir dalam deklarasi Hari Santri Nasional, karena Korps Militer menyadari para santri merupakan bagian dari ibu kandung militer yang ikut memerdekakan RI.
"Kenapa saya langsung memutuskan untuk hadir dalam acara ini dan mengajak pasukan Kopassus, Marinir, Paskhas, Armed? Karena saya ingin mengingatkan TNI lahir dari rakyat, termasuk para santri. Para santri juga ibu kandung TNI," ujar Gatot.
Pada kesempatan ini, Gatot sedikit mengulas sejarah, sebelum lahirnya TNI, rakyat termasuk para santri lah yang berjuang memerangi para penjajah dan membawa RI menuju gerbang kemerdekaan.
"Kenapa rakyat menjadi ibu kandung TNI? TNI itu lahir setelah kemerdekaan. Sementara yang membawa kemerdekaan itu adalah rakyat, termasuk para santri dan ulama," jelas Gatot.
Gatot juga mengatakan Korps Militer menghormati para santri, karena sejatinya Sudirman yang merupakan jenderal pertama yang memimpin para pejuang mengusir penjajah, yang juga berlatarbelakang guru agama Islam.
"Jenderal pertama kita, Jenderal Sudirman juga merupakan guru agama dalam kesehariannya. Sehingga ada ikatan emosional antara TNI dengan para santri," kata Gatot.
Hari Santri Nasional ditetapkan untuk menghormati perjuangan kelompok santri dalam kemerdekaan RI. Perjuangan ketika itu tak hanya mengangkat bambu runcing, tetapi juga melalui perjuangan tokoh-tokoh Islam seperti Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, dan HOS Cokroaminoto.
"Dengan acara ini, semakin menunjukan TNI bersama rakyat," tutup Panglima.
Tak hanya berkirap, para santri juga turut berduka atas tragedi asap yang berada di Jambi.(bh/yun) |