RUSIA, Berita HUKUM - Pertemuan puncak G20 kali ini berbeda dengan beberapa pertemuan sebelumnya. Meskipun tidak sepanik dan seluarbiasa pertemuan pertama dan kedua di Washington DC dan di London, karena meskipun proses perbaikan ekonomi ini belum tuntas dan masih berlangsung, namun ada berita baik. “Ekonomi negara maju sudah mulai menggeliat, ekonomi Amerika dan Jepang dan sejumlah negara maju yang lain. Ini bagus, karena mereka menguasai sebagian terbesar dari perekonomian global. Kalau ekonominya kuat, kokoh, dan terus tumbuh, dampaknya tentunya akan dinikmati oleh seluruh negara di dunia, termasuk emerging market.
Demikian dijelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers di Hotel Grand Emerald, St. Petersburg, Rusia, Sabtu (7/9) pagi. Selain berita baik, perekonomian global juga masih menyimpan berita buruk. “Berita buruknya, justru ekonomi negara-negara emerging market termasuk BRICS, mendapat tekanan baru. Termasuk Indonesia juga mendapat tekanan baru. Kalau ini tidak diatasi, baik oleh negara-negara emerging market itu sendiri maupun kerja sama global, tentu tidak membawa kebaikan pada upaya kita untuk membuat ekonomi dunia tumbuh kuat, berimbang, dan berkelanjutan,” terang SBY.
“Pandangan saya ini saya sampaikan pada sesi yang diagendakan dalam G20 summit. Saya sampaikan pikiran-pikiran Indonesia, dan saya juga senang mendengar pandangan pimpinan negara BRICS dan emerging market, misalnya PM India, Presiden Afrika Selatan, Presiden Brazil, Presiden Tiongkok, dan Presiden Putin sendiri, yang kelimanya menjadi anggota BRICS, dan juga pandangan negara yang ekonominya juga ikut tertekan, seperti Turki yang memiliki pandangan yang nyata dan kongkrit pada forum G20 kali ini,” tambahnya.
Presiden SBY mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memahami bahwa yang tertekan bukan hanya ekonomi Indonesia, tetapi juga negara lain. “Saya mencatat sejumlah data, baik dari Bank Dunia maupun sumber-sumber lain, yang ingin saya jelaskan agar kita bisa bekerja sangat-sangat serius pada bulan-bulan mendatang dalam mengelola perekonomian kita, tapi juga jangan panik seolah-olah hanya Indonesia yang mendapat tekanan ini. Dengan demikian kalau kita serius dan sadar ada tekanan baru dalam perekonomian kita tetapi tidak panik dan rasional, kemudian mencari jalan yang paling baik, insya Allah akan selamat perekonomian kita, sebagaimana kita menyelamatkan perekonomian kita tahun 2005 lalu, atau 2008-2009,” ujar Kepala Negara.
Pertumbuhan negara maju, lanjut Presiden SBY, sebenarnya tahun ini diperkirakan total sebesar 1,2 persen, meskipun Amerika Serikat dan Jepang jauh lebih tinggi, tetapi yang lain juga masih terus berjuang bergerak dari pertumbuhan yang rendah menjadi pertumbuhan yang semakin tinggi. “BRICS dan emerging market yang selama ini tumbuh baik, mendapat tekanan baru. Contoh, Rusia anggota BRICS yang diperkirakan tumbuh sekitar 3.3 persen tahun ini. Tiongkok yang biasanya 9-10 persen pertahun, diperkirakan 7,7 persen. India ada yang meramalkan sekitar 5,7. Artinya, emerging market juga tertekan. Indonesia, kita sudah mengoreksi ke bawah sekitar 5,9 hingga 5,8 persen. Andaikata kita bisa bertahan dan mencapai angka itu, itupun masih melegakan karena diperkirakan akan tumbuh nomer 2 setelah Tiongkok,” SBY menjelaskan.
Namun sekali lagi Presiden SBY menegaskan, meskipun banyak negara juga sedang mengalami kesulitan perekonomian, bukan berarti Indonesia bisa bersantai. “Bagaimanapun, kita akan lakukan semua hal. Saya sudah berpesan kepada Menteri Keuangan, insya Allah sepulang dari G20 ini, saya seperti tahun 2008-2009 lalu bersama jajaran pemerintah dan dunia usaha, akan kembali bekerja terus-menerus untuk memastikan ekonomi bisa kita pulihkan dalam waktu yang tidak terlalu lama,” seru SBY.(osa/har/pdn/bhc/rby) |