JAKARTA, Berita HUKUM - Media Monitoring merupakan kajian rutin, dari Institute Pol-Tracking Intitute merilis data fokus dalam melakukan riset pemberitan media, pada periode Februari dan Maret 2013, Minggu (14/4) di Restoran Bumbu Desa, Jl Suryo, Kebayoran Baru Jakarta, bersama pengamat politik Hanta Yuda yang juga sebagai Executive Director of PolTracking Institute.
Hal ini disampaikan Agung Baskoro dari Pol-Tracking Institute, bahwa Media sebagai sebuah pilar Demokrasi, sebagai sarana pencitraan dan pendidikan bagi publik, contoh bagi para tokoh yang menjadi Capres dan bagian dari misi kami mencerdaskan publik dan elit agar lebih baik berpolitik.
Bahwa "Capres dalam pemberitaanya itu seperti apa! dan track record seperti apa, dari 6.205 berita yang muncul".
Untuk berita Capres, ada 355 berita sekitar 5,6% dari total berita. Jadi masih sangat kecil prosentasenya. Pemberitaan Capres (5,6%) ini masih kalah jauh dengan pemberitaan Parpol (94,4%). artinya, memang belum ada Capres terkuat.
Ada 12 Parpol yang kita pantau, berita parpol di dominasi, Partai Demokrat 59,4% paling banyak diberitakan, periode Februari dan Maret 2013.
Sepanjang feb-maret 2013, berita didominasi tema konflik, internal partai, kasus hukum, dan kebijakan politik. Partai yang paling banyak diberitakan adalah Demokrat (59,4%), PKS (15,9%), dan Hanura (4,8%).
Narasumber yang paling banyak diberitakan, Anas Urbaningrum (277), Marzuki Alie (236), SBY (235), Max Sopacua (173), Jero Wacik (158), Saan Mustopa (157), Hidayat Nurwahid (122), Anis Matta (110), Nurhayati Assegaf (105) dan ruhut sitompul (104).
Dari 10 narasumber, 8 dari Partai Demokrat dan 2 dari PKS. Setidaknya ini menguatkan temuan terbanyak terkait frekuensi pemberitaan di atas. Berita partai Demokrat, didominasi tema konflik, yakni dorongan Anas mundur dari Ketum dan kasus hukum Hambalang serta Kasus Simulator SIM.
Sedangkan berita untuk PKS didominasi tema kasus hukum, yakni kasus penangkapan Lutfi Hasan Ishaq, Tema paling banyak diberitakan yaitu kasus hukum, Demokrat, dan PKS.
"Demokrat, dan PKS, paling mendapat sedikit pemberitaan yang positif," ujar Agung.
Untuk berita Hanura, didominasi tema kebijakan politik, yakni masuknya Hari Tanoesodibyo.
Sementara berita untuk PDIP, didominasi kebijakan politik sebagai oposisi dan sengkarut Pilkada Jabar dan Sumut.
Berita Partai Golkar didominasi oleh kasus hukum suap PON Riau.
PAN didominasi kegiatan Rakornas, tanggapan terhadap kasus hukum dan kebijakan bergabungnya sejumlah Parpol yg tidak lolos Pemilu. Dimana untuk Gerindra, lebih fokus perannya sebagai partai oposisi.
Untuk Nasdem didominasi oleh konflik internal sebagai efek keluarnya Hari Tanoe bersama gerbong yang dibawanya. Untuk PPP & PKB lebih fokus ke kebijakan politik. Sementara, PBB dan PKPI banyak disibukkan karena soal sengkarut sebagai peserta Pemilu.
Dari temuan dan analis di atas, ada kesimpulan yang diperoleh, Parpol perlu menginisiasi inovasi politik.
Untuk Capres, tokoh yang paling dinamis dan paling banyak diberitakan, Jokowi, Prabowo, Aburizal Bakrie, M Mahfud MD dan Dahlan Iskan.
Perlu menciptakan ruang dan kesempatan, bagi tokoh-tokoh lain yang prospektif, sebagaimana Jokowi memperolehnya dari Media, fenomena Jokowi merupakan pelajaran positif dari keberhasilannya memimpin Solo, dan sebenarnya masih byk kepala-kepala daerah berprestasi lainnya.
Metode yang kami gunakan metode purposive sampling pada 15 media, 5 media cetak; (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia). 5 media online (Detik.com, kompas.com, merdeka.com, okezone.com, viva.co.Id). Serta 5 media TV,(Trans Tv, SCTV, RCTI, Metro TV, TV One) kita menggunakan rating: Alexa.com.(bhc/put) |