YOGYAKARTA, Berita HUKUM - “Selamat sore, bagaimana kabarnya? Adakah masukan bagi pak lurah?” kata Gatot, petugas sampah di Desa Panggungharjo, di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, saat menjalankan tugas. Seperti itulah rutinitas Gatot, menyambangi warga dengan gerobak motor, juga menyapa dan bertanya.
Tak hanya Gatot, ke-11 petugas kebersihan lainnya juga melakukan prosedur yang sama. Sang kepala desa, Wahyudi Anggorohadi, telah “menyulap” profesi petugas kebersihan secara profesional.
Wahyudi membekali mereka dengan keterampilan dan wawasan manajemen yang modern. Semisal, kepuasan pelanggan, pelayanan yang prima, serta pengelolaan aspirasi dan keluhan warga. Tak hanya itu, “Mereka ini juga difungsikan sebagai public relation yang menyosialisasikan program desa,” kata Wahyudi.
Terobosan semacam itulah yang membuat desa seluas 560 hektar ini begitu menonjol di Yogyakarta. Tak heran, dengan langkah profresif ini, desa yang berpenduduk 25 ribu jiwa ini, dinobatkan Kementerian Dalam Negeri sebagai Desa Terbaik Tingkat Nasional pada 2014 ini.
Tak hanya itu. Wahyudi juga melakukan reformasi anggaran. Setiap pendapatan pengeluaran desa, dicatat dan diumumkan secara terbuka. “Jadi masyarakat mengetahui mengetahui seberapa besar anggaran yang dikelola, untuk apa saja dan lain sebagainya, itu sudah buka sejak awal pelantikan,” katanya.
Ia juga mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), tiga bulan sejak dirinya dilantik sebagai kepala desa. Pengelolaan sampah yang baik, menurut keyakinannya, bisa berdampak multiguna. Sampah yang didaur ulang, bernilai ekonomis yang lantas dikelola oleh BUMDesa. Hasilnya, digunakan untuk mendirikan tempat belajar untuk anak usia dini dan memberikan beasiswa dalam program Satu Keluarga Satu Sarjana.
“Ketika masalah sampah selesai, maka separuh masalah masyarakat juga selesai sebenarnya,” katanya.
Lainnya, Wahyudi juga menggelar helatan budaya setiap tahun yang berisi pameran seni, gelar potensi budaya serta sejumlah pertunjukan seni lainnya. Kampung Dolanan, adalah salah satu ikon keberhasilan desa dalam melestarikan dolanan (mainan) tradisional, yang ia rintis sebelum menjadi kades.
Untuk menyaksikan video silahkan menuju link berikut ini :
video.(kpk/bhc/sya)