JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Polda Metro Jaya mengklaim penangkapan terhadap John Refra alias John Kei sesuai prosedur. Hal ini dapat dilihat dari segala kelengkapan administrasi, sebelum melakukan penangkapan terhadap tersangka kasus dugaan pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI)—kini berubah nama menjadi PT Power Steel Mandiri (PSM)—Tan Harry Tantono alias Ayung (45) tersebut.
Demikian tanggapan Polda Metro Jaya selaku pihak termohon yang disampaikan Kabid Hukum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Imam Sayuti dalam persidangan praperadilan yang diajukan pihak pemohon, yakni John Kei yang diwakili tim kuasa hukumnya, dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (6/3).
Menurut dia, saat John pertama kali keluar dari kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (17/2) lalu, petugas sempat memanggilnya keluar. Lalu, petugas memperlihatkan surat penangkapan terhadapnya dan diminta untuk berkoordinasi. Namun, John Kei menolak diborgol. Kemudian, John berbalik arah dan coba melarikan diri. Petugas pun langsung menembaknya.
“Penangkapan terhadapnya sudah berdasarkan hukum, yakni pasal 18 KUHAP. Penembakan juga dilakukan dengan senjata api jenis revolver, bukan senjata laras panjang seperti yang ditudingkan pihak pemohon. Atas dasar ini, kami menolak dengan tegas bahwa penangkapan itu menyalahi prosedur. Justru semuanya sudah dilengkapi secara administrasi,” jelas Imam Sayuti.
Kuasa hukum Polda Metro ini juga menuturkan bahwa petugas kepolisian juga mendapatkan satu unit alat pengisap shabu atau bong di kamar tersebut. Dari John juga disita mobil Jeep Wrangler bernomor polisi B 1 TUT, satu unit ponsel merek Virtue berlapis emas, dompet merek Moschino, gelang emas, cincin emas berlian dan sejumlah uang.
"Pemohon menolak menandatangani surat penahanan dan penyitaan, sehingga tkami membuat berita acara penolakan penandatanganan surat penangkapan dan penyitaan. Kami juga menolak mengembalikan barang-barang tersebut, karena hal tersebut adalah untuk kepentingan laboratorium untuk kepentingan penyidikan kasus terkait,” jelas perwira menangah Polri ini.
Atas dasar pertimbangan ini, lanjut dia, tindakan yang dilakukan termohon terhadap pemohon sudah sesuai dengan hukum. Dalil serta alasan yang disampaikan pihak pemohon patut ditolak untuk diabaikan. “Untuk itu, kami meminta majelis hakim kiranya dapat memutuskan dengan menyatakan menolak praperadilan ini. Kami juga meminta majelis menyatakan permohonan ini tidak dapat diterima, menolak pemulihan dan rehabilitasi harkat dan martabat pemohon," imbuh Imam Sayuti.
Sebelum sidang ditutup, anggota tim kuasa hukum John Kei, Indra Sahnun Lubis sempat mempertanyakan penembakan terhadap John Kei. Bahkan, setelah ditembak, John Kei juga diborgol. Padahal, di lokasi penangkapan terdapat puluhan petugas polisi. “Kami minta majelis hakim mmeberi teguran, karena bisa menimbulkan kebencian masyarakat,” kata dia.
Hakim tunggal Kusno tidak memberikan tanggapan apa-apa atas permintaan tersebut. Dia pun meminta tim kuasa hukum John Kei untuk menuliskan keberatan dan memasukannya pada replik dalam persidangan berikutnya yang digelar dilanjutkan pada Rabu (7/3) besok. “Silahkan memasukannya dalam replik yang dapat dibacakan di persidangan berikutnya,” tandas Kusno.(tnc/bie)
|