Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Prabowo Subianto
Prabowo: Kalau Terjadi Perang, Indonesia Hanya Bertahan 3 Hari
2018-09-01 20:00:20
 

Bakal Capres RI, Prabowo Subianto saat acara seminar nasional 'Paradoks Indonesia', Sabtu (1/9).(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Bakal Capres Republik Indonesia Prabowo Subianto menyebut sebagai negara besar, pertahanan Indonesia dirasa sangat lemah. Prabowo mengungkapkan, jika mengalami peperangan, Indonesia hanya mampu bertahan dalam 3 hari saja.

"Saya mengutip Menhan kabinet ini, kita hanya bertahan 3 hari. Bahan bakar untuk rakyat habis dalam 21 hari. Beras untuk rakyat (hanya bertahan) 18 hari, kalau terjadi perang," kata Prabowo dalam seminar nasional 'Paradoks Indonesia' yang digelar Institut Madani Nusantara (IMN) pada gelar Bedah Buku "Pandangan Strategis Prabowo Subianto, Paradoks Indonesia" di Ballroom Hotel Sahid Jaya, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9).

Prabowo pun mengibaratkan kondisi Indonesia yang lemah itu seperti orang sakit. Namun, tidak pernah mau mengakui penyakitnya.

"Mari kita periksa diri kita. Indonesia ini ibaratnya seorang (periksa) ke lab dapat hasil labnya, (dokternya) dimarahin. Kita cek up kita tidak mau mengerti hasil lab itu yang kita sebut indikator-indikator (Indonesia masih tertinggal) itu," jelasnya.

Prabowo mendorong rakyat untuk sadar akan penyakit tersebut dan jika terpilih menjadi Presiden di Pilpres 2019, ia optimistis dapat mengubahnya dalam waktu cepat.

"Jadi inti yang mau saya sampaikan saudara-saudara, kita sebagai bangsa harus paham ini adalah ada masalah besar kekayaan kita enggak ada di Indonesia," terangnya.

"Sistem ekonomi kita keliru kalau tidak ada kehendak politik untuk merubah ya anak dan cucu kita terus miskin. Apa bisa? Apakah bisa berubah dalam waktu cepat? Ya pasti bisa," tegasnya.

Ketua Umum Gerindra itu menjadi pembicara utama dalam acara itu. Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung soal revolusi yang terjadi di semua aspek kehidupan manusia di dunia, termasuk revolusi informasi.

"Mulai dari sosial, revolusi sosial, revolusi industri, revolusi ekonomi dan sekarang, saat ini terjadi revolusi informasi, revolusi informatika," ujar Prabowo.

Prabowo juga mengatakan, dengan revolusi informasi, rakyat yang tinggal di daerah terpencil pun bisa menerima informasi. Karena itu, mereka tidak dapat dibohongi dan dibodohi.

"Revolusi informasi, informatika membuat rakyat yang tinggal di daerah terpencil, rakyat yang berpenghasilan paling rendah pun bisa menerima informasi. Karena itu, mereka tidak dapat dibohongi dan dibodohi," tegas Prabowo yang disambut tepuk tangan riuh peserta yang hadir.

Selain Prabowo, acara bedah buku itu dihadiri puluhan tokoh bangsa dan cendekiawan. Diantara yang hadir adalah Hashim Djoyohadikusomo, Fadli Zon, Sandiaga Salahuddin Uno, M. Si., Dr. Rizal Ramli, dan Kwik Kian Gie.(swamedium/kumparan/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Prabowo Subianto
 
  Prabowo di Sidang PBB: Indonesia Siap Kerahkan 20.000 Orang untuk Perdamaian Gaza
  Mardani: Anies atau Ganjar Tidak Mengajak Pendukungnya Menyerang Prabowo
  Sejumlah Pernyataan Prabowo Mengundang Polemik, Soal Apa Saja?
  Koalisi Sipil Desak KPK Usut Dugaan Korupsi Pesawat Mirage 2000-5 Prabowo
  Sinyal Prabowo untuk Siapa, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Atau Rizal Ramli?
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2