JAKARTA, Berita HUKUM - Panasnya tensi politik menjelang pemilihan Calon Presiden 9 Juli mendatang, tak lepas dengan kampanye hitam, dimana salah satu Capres dari PDI- Perjuangan Joko Widodo, dikhabarkan telah meninggal dan diberi ucapan bella sungkawa dari ketua Umum PDI-P Megawati, dengan gambar ucapan kematian milik etnis Cina, Tiongkok "RIP Jokowi" yang beredar di Facebook dan Twitter beberapa hari ini.
Menurut Rahman Latuconsina, S.H. Koordinator Nasional Moncong Intelektual, selama ini sosok Capres Jokowi telah mulai membiasakan diri dengan beredarnya gosip/issue miring tentang dirinya, bahkan dengan Kampanye hitam sekalipun yang disinyalir dikontruksikan oleh kelompok orang-orang "galau" akan majunya Jokowi sebagai Capres
"Beliau yakin hal ini tidak mempengaruhi kepercayaan dan kecintaan Rakyat Indonesia terhadap dirinya. Rakyat sudah cerdas," ujar Rahman Latuconsina kepada BeritaHUKUM.com, Jumat (9/5).
Dijelaskanya, bahwa kelompok orang-orang yang tidak senang terhadap popularitas Jokowi, di sinyalir menjadi galau dan frustasi, ketika berbagai metode yang mereka terapkan untuk menjegal Jokowi tidak berhasil. Sehingga mereka harus memotong kompas dan melakukan Kampanye Hitam guna menciderai citra Jokowi yang diprediksi berbagai kalangan akan menjadi Presiden pada Pemilu 2014.
"Kegalauan mereka tak urung membuat kita semua tertawa geli, apa lagi ketika mereka menyebar fitnah R.I.P Jokowi, atau juga Jokowi Boneka Megawati, Jokowi Etnis Tionghoa serta Issue dan gosip-gosip lain, sampai pada politisasi Kasus Bus Trans Jakarta," ujar Rachman kembali.
Sementara Jokowi sendiri menangapi, isue kampanye kematianya dengan tulisan Cina, bahwa tujuan ucapan tersebut bahwa dirinya merupakan keturunan etnis tionga atau Cina.
"Pertama, itu ngawur. Kedua, itu sudah brutal dan keterlaluan," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/5).
Gubernur DKI Jakarta ini ingin serius menindaklanjuti kampanye hitam itu ke ranah hukum. Namun, Jokowi mengaku bahwa sulit untuk mencari tahu siapa pihak yang menyebarkan kampanye itu dan menyerahkanya kepada legal hukumnya.
"Tapi, biar tim legal hukum kitalah yang ngurusin," ucapnya.
Sementara, saling serang dan adu fitnah di jejaring sosial, dimana Jokowi terlihat masih keturunan Cina. Namun yang jelas ibunya adalah Sudjiatmi, perempuan asli Jawa yang sekarang tinggal di Manahan, Banjarsari, Solo.
Bentuk gambar tersebut berupa iklan pengumuman kematian yang sering dimuat di surat kabar. Sebagai awalan dalam gambar tersebut, tercantum tulisan yang mengumumkan “kematian” Jokowi pada 4 Mei 2014.
"Telah meninggal dengan tenang pada hari Minggu 4 Mei 2014 pukul 15.30 WIB, suami, ayah, dan capres kami tercinta satu-satunya."
Pengumuman dilanjutkan dengan informasi mengenai lokasi “jenazah” Jokowi akan dikebumikan. "Jenazah akan disemayamkan di kantor PDIP Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan dan akan dikremasi pada Selasa 6 Mei 2014."
Sebagai penutup pada pengumuman tersebut, tercantum nama istri Joko Widodo, Iriana Widodo, sebagai pihak yang dikondisikan sebagai pemasang iklan. Selanjutnya, tertulis nama Megawati Soekarno Putri sebagai pihak yang ikut “berdukacita”.
"Turut berduka cita : Megawati Soekarno Putri beserta segenap staff, kader, dan Tim Sukses Capres 2014."
Sementara, Budayawan Ridwan Saidi, dalam wawancaranya terkait Jokowi orang Cina dengan Tabloid Suara Islam edisi 174 (14-28 Rabiul Akhir 1435 H/14-28 Februari 2014M) halaman 17, ayah kandung Capres dari PDIP itu adalah seorang Cina asli Solo, yang bernama Oey Hong Liong.
“AS tidak mendukung Jokowi. Jokowi hanya bekerja untuk kepentingan Cina. Bagaimana AS mendukung Jokowi yang seratus persen Cina dan ayahnya seorang Cina dari Solo, Oey Hong Liong,” tegas Ridwan Saidi.(dbs/bhc/put) |