Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Budiman Sudjatmiko
SBY Blusukan, Politisi PDIP: Dari Dulu Kemana Aja, Kok Baru Sekarang
Sunday 06 Jan 2013 11:31:04
 

Budiman Sudjatmiko, kader PDIP saat ditemui disalah satu acara di Jakarta.(Foto: BeritaHUKUM.com/din)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI kembali ramai dibicarakan. Kali ini mengenai blusukannya yang dinilai banyak kalangan meniru gaya Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Budiman Sudjatmiko, kader PDIP menertawakan gaya SBY yang blusukan itu. Menurutnya tidak salah jika memang jika masyarakat menilai blusukan SBY itu meniru Jokowi yang sejak dilantik menjadi Gubernur DKI selalu blusukan.

Menurut Budiman, dirinya menyayangkan mengapa baru sekarang Presiden melakukan blusukan. Sebab gaya blusukan itu sudah melekat di gaya Jokowi. "Dari dulu kemana aja, kok baru sekarang. Jadi wajar jika masyarakat curiga (masyarakat menilai SBY meniru Jokowi)," katanya sembari tertawa, Minggu (6/1).

menanggapai tanggapan sejumlah kader Demokrat yang menilai bahwa SBY blusukan sudah dari dulu. Tapi tidak diekspos di media. Budiman kembali membuat dirinya tersenyum. Mana mungkin, katanya, seorang Presiden blusukan tidak diekspos media. SBY dinilai meniru gaya Jokowi yang merupakan kader PDIP. "Presiden makan mie saja pasti diekspos kok. Wajar lah jika masyarakat curiga," terangnya.

Sementara itu, kader Partai Demokrat, Saan Mustopa tetap menegaskan bahwa blusukan SBY lebih dulu dilakukan dibanding Jokowi. Saat terpilih menjadi Presiden 2004 lalu, katanya, SBY langsung turun ke masyarakat untuk melihat secara langsung keadaan masyarakat. Hal itu terus dilakukan, bahkan saat terpilih lagi di pemilu 2009, SBY kembali melakukannya. "Pak SBY turun ke bawah sudah lama dilakukan. Apa yang terjadi di masyarakat itu dilakukannya dengan tulus, bahkan saat SBY terpilih 2004. Jadi tidak ada tiru-meniru. 2009 itu pun pak SBY turun," katanya.

Hanya saja, tambahnya, media tidak mengekspos blusukan yang dilakukan SBY itu. Menurutnya, media melihat SBY blusukan itu mungkin sudah biasa, karena sudah sering dilakukan. "Kerena media melihat biasa apa yang dilakukan pak SBY itu. Kadang kan begini, kalau ada pemimpin yang sudah lama melakukan sesuatu hal, tapi kalau ada pemimpin baru yang melakukan hal yang sama. Maka orang yang lama dilupakan, yang dilihat orang yang baru melakukan," jelasnya.

Sementara pengamat politik, Sukardi Rinakit menilai dari kaca ilmu politiknya bahwa apa yang dilakukan sang presiden itu sudah tepat dilakukan. Blusukan SBY bisa menenangkan suhu politik yang akan memanas di tahun 2013 dan 2014 ini. Blusukan SBY itu juga akan berdampak positif bagi Demokrat karena SBY adalak ikon partai berwarna biru itu. "Blusukan SBY itu sangat penting bagi Demokrat, apalagi belakangan ini banyak kadernya korupsi," ujarnya.

Blusukan itu sangat cocok untuk karakter masyarakat Indonesia. Biarpun pemimpin selalu dikritik, tapi kalau sudah ditangani oleh pemimpin itu, maka masyarakat akan luluh, akan cium tangan juga. Dan perlu diingat, labih jauh Sukardi menerangkan, wibawa SBY sampai saat ini masih melekat di hati masyarakat. Calon presiden yang bisa menyaingi kewibawaan SBY hanya lah Megawati Soekarno Puteri (PDIP) dan Prabowo (Gerindra). "Itu Mega dan Prabowo belum bisa menyaingi, tapi mendekati dari pada yang lain. Rakyat kita itu, biarpun pimpinan kita terus dikritik, tapi kalau ketemu tetap cium tangan kok, blusukan itu sangat bermanfaat," pungkasnya.(bhc/din)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

 

ads2

  Berita Terkini
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2