BANDUNG, Berita HUKUM - Kejaksaan Republik Indonesia menyelenggarakan Sarasehan yang dimulai pada hari ini, bertempat di Hotel Universal, Bandung, Jawa Barat.
Kapala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung RI, Setia Untung Arimuladi mengatakan bahwa, pada dasarnya tujuan dari Sarasehan ini adalah usaha untuk terus membangun kemitraan antara Puspenkum dan Media Massa, dalam memberikan informasi kepada masyarakat, dengan tetap menjunjung independensi dan obyektifitas.
"Terima kasih atas kerjasama rekan-rekan Forum Wartawan Kejaksaan Agung (Forwaka), atas dukungan selama ini, untuk terus membangun kemitraan," ujar Untung dalam pidato sambutannya, Sabtu (14/9) di Bandung.
"Alhamdulillah kegiatan Sarasehan yang juga untuk memilih Ketua Forwaka yang baru ini, terselenggara karena telah berdasarkan anggaran Dipa untuk 150 orang," terang Untung.
Sementara itu, Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Adjat Sudrajat yang membacakan pidato sambutan Jaksa Agung Basrief Arief, menyampaikan permohonan maaf, karena berhalangan disebabkan suatu kepentingan sehingga tidak dapat menghadiri Sarasehan dan Pemilihan Ketua FORWAKA Periode 2013 - 2014, yang digelar malam ini hingga tengah malam nanti.
"Maka saya menyampaikan sambutan beliau, dimana Wartawan adalah pekerjaan mulia. Pers sebagai fungsi kontrol sosial, utama dan bermanfaat bagi pengawasan, mencegah terjadi penyelewengan kekuasaan, fungsi pers juga sebagai pendidikan bagi masyarakat," kata Adjat.
Sarasehan ini terasa makin lengkap dengan kehadiran Prie GS, seorang Wartawan senior yang juga dikenal sebagai Budayawan Penggoda Indonesia, dengan pengalaman dalam maupun luar negeri, hingga setiap 1 kali putaran sirkuit Valentino Rossi telah dihitungnya, yakni senilai Rp 4 miliar.
Dengan dipandu langsung oleh Kapuspenkum Setia Untung Arimuladi, Prie GS yang memang selalu tampil percaya diri ini, ternyata sering membawa celana dalam anaknya. Dimana menurutnya hal tersebut adalah bagian dari komunikasi batin yang dibangunnya.
"Valentino Rossi itu orang kaya raya, tapi tetap kurus, dan penampilannya (di sirkuit) yang sering miring itulah kecerdasan spritual dengan tubuhnya," kata pria asal Semarang ini.
Dengan gaya bahasa tubuh yang tak tak terlalu bergelora di atas panggung, Prie mengatakan bahwa dirinya bukan seorang motivator. "Ini adalah sharing biasa kita, sebagai pelaku komunikasi," ucapnya di hadapan para Wartawan dan jajaran pejabat dan pegawai Kejaksaan.
Setelah Prie GS memberikan ceramahnya dengan isi pemaparan yang kadang-kadang melompat maju dan mundur, dengan guyon khas tak terduga, serta perpaduan visualisasi melalui gambar dari layar. Budayawan Prie GS dapat menghadirkan greget bagi para hadirin, terkadang hadirin dibuat tertawa terbahak-bahak, terkadang berfikir merenung. Dan diantara kesimpulan yang disampaikan Kapuspenkum Untung adalah, betapa komunikasi sangat luas.
"Kita pun mampu membangun komunikasi secara batiniah, untuk tercapainya komunikasi yang lebih baik," pungkas Untung.(bhc/mdb) |