Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Muhammadiyah
Sembilan Sifat Karakter ber-Muhammadiyah yang Harus Diketahui Warga Persyarikatan
2021-06-23 15:23:43
 

 
YOGYAKARTA, Berita HUKUM - Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah kembali mengingatkan adanya dinamika di internal Muhammadiyah. Dinamika yang terjadi itu menjadi pekerjaan rumah bagi warga dan Pimpinan untuk meneguhkan dan bertumpu pada nilai-nilai gerakan. Dikhawatirkan bila terus terjadi gerakan Muhammadiyah malah akan terombang ambing.

"Muhammadiyah yang kuat akan membuat kita punya daya tawar kuat. Muhammadiyah tidak mudah dipengaruhi," tegas Haedar.

Menurut Haedar, sistem di Muhammadiyah ini juga harus kuat agar orang-orangnya juga punya marwah dan di segani sehingga tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Untuk itu, Haedar kembali menjelaskan sifat karakter ber-Muhammadiyah yang terbagi dalam sembilan hal;

Pertama, berpaham Islam berkemajuan.

Kedua, bermisi dakwah dan tajdid (pembaruan).

Ketiga, berideologi moderat.

Keempat, bersistem organisasi modern berjaringan luas.

Kelima, beramal usaha yang berkunggulan.

Keenam, berperanaktif memajukan umat dan bangsa.

Ketujuh, berwawasan kesemestaan.

Kedelapan, berkarakter tidak berpolitik praktis.

Kesembilan, suri tauladan.

Hal ini disampaikan Haedar dalam kegiatan Silaturahmi dan Musypimda II Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Ahad (20/6), secara daring live di Youtube PDM Kabupaten Malang.

Sementara, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir juga mengatakan bermuhammadiyah saat ini memang memerlukan peneguhan dan penguatan eksistensi sebagai gerakan Islam karena di luar kita dan melingkupi kita dalam dinamika pergerakan kita begitu kompleks dan dinamisnya perkembangan kehidupan.

Menurut Haedar ada setidaknya empat hal yang kita hadapi. Pertama, kita sekarang berhadapan dengan realitas baru dunia media sosial dan perkembangan teknologi IT yang mempengaruhi pola hidup dan dakwah kita.

"Bagaimana media sosial dan teknologi IT sebagai bagian dari perkembangan revolusi industri 4.0 kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menjadi wasilah bagi pergerakan yang mengarah pada kemajuan dan memberi sinar bagi bangsa dan kemanusiaan semesta bukan menjadi bagian objek penderita atau sekedar menjadi konsumen perkembangan IT dan media sosial yang begitu rupa dari hal yang sangat negatif sampai hal yang sangat positif tergantung bagaimana kita memanfaatkannya," tutur Haedar, Ahad (20/6), pada Kegiatan Silaturahmi dan Musypimda PDM Kabupaten Malang.

Kedua, kita berhadapan dengan realitas paham keagamaan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat kita, lebih khusus dikaum muslimin yang perkembangan praktik keagamaannya di tengah proses yang semakin demokratis sekarang ini dan juga dalam merespon perkembangannya bermunculan paham-paham keislaman, paham-paham keagamaan dari arah paling ekstrim di garis kanan sampai garis kiri yang juga beririsan dengan paham-paham kita yang memerlukan keniscayaan dan keseksamaan kita untuk menjaga eksistensi Muhammadiyah.

Ketiga, kita juga berhadapan dengan dinamika perkembangan multikulturalisme yakni paham tentang hak asasi manusia, demokrasi, toleransi, plurarisme, yang itu menjadi bagian dari setiap perkembangan kehidupan modern dimana pun.

Keempat, kita berhadapan dengan realitas kehidupan global atau yang disebut globalisasi yang bukan hanya membawa misi dan kemajuan ekonomi global sekaligus juga ekspansi ekonomi global yang tentu sangat liberal tetapi juga membawa misi dan ekspansi politik dan budaya yang siapa pun tidak bisa mencegahnya di era sekarang ini.

"Termasuk dengan perkembangan geopolitik, ekonomi, dan budaya yang bergerak masuk ke Asia Timur, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok yang menjadi adidaya baru setelah Soviet jatuh dan betapa pun kita berteriak apa pun tetapi ekspansi dan pergerakan globalisasi dengan geopolitik ekonomi dan budaya itu tidak bisa kita cegah. Ada yang positif manfaatnya tetapi juga ada yang negatif yang bisa mempengaruhi dan melemahkan kita sebagai bangsa," terang Haedar.(muhammadiyah/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Muhammadiyah
 
  Gedung 13 Lantai RS Roemani Resmi Berdiri, Muhammadiyah Dobrak Mitos Angka Horor!
  Kalender Hijriah Global Tunggal: Lompatan Ijtihad Muhammadiyah
  Jusuf Kalla Sebut Pikiran Moderat Haedar Nashir Diperlukan Indonesia
  Tiga Hal yang Perlu Dipegang Penggerak Persyarikatan Setelah Muhammadiyah Berumur 111 Tahun
  106 Tahun Muhammadiyah Berdiri Tegak Tidak Berpolitik Praktis, Berpegang pada Khittah
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2