JAKARTA, Berita HUKUM - Berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dimulai semenjak tahun 2015 sebenarnya merupakan opportunity atau kesempatan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk bisa turut ikut menikmati pertumbuhan ekonomi di negara ASEAN untuk bisa berkarir di negara anggota MEA.
"Tapi MEA sudah berjalan hingga saat ini belum ada langkah-langkah kebijakan dari pemeritahan Joko Widodo untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang punya skill untuk bisa bekerja di negara ASEAN, dan lebih banyak menjadi pekerja Unskill di Malaysia dan Singapore," jelas Arief Poyuono, Federasi Serikat Kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bersatu yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra di Jakarta, Senin (1/8).
"Hal ini membuktikan bahwa, nampak tidak ada program yang jelas pemerintah Joko Widodo untuk menyiapkan TKI yang punya skill untuk bersaing," paparnya.
Sebenarnya, banyak cara yang harus dilakukan oleh pemerintah saat ini untuk menyiapkan TKI yang bisa bersaing dengan Tenaga Kerja dari Negara ASEAN lainnya.
Arief pun memberikan permisalan, contoh dengan melihat dimana kelemahan Tenaga Kerja Indonesia untuk bisa bersaing dengan Tenaga Kerja dari Negara ASEAN. seperti, misalnya dalam hal berbahasa asing seperti bahasa Inggris dan Bahasa yang sedang menuju bahasa pergaulan bisnis yaitu bahasa Mandarin, akibat negara China yang sudah menjadi negara yang punya ekonomi kuat. Banyak keuntungan yang diambil jika TKI yang memiliki skill bisa kerja di negara ASEAN, salah satunya adalah masuknya devisa ke Indonesia.
"Karena itu penting dari sekarang pemerintah Joko Widodo agar kedepannya menyiapkan untuk kembali menghidupkan Balai Latihan Kerja (BLK) di daerah-daerah yang dilengkapi dengan lab dan pelatihan bahasa asing bagi TKI secara gratis," ungkap Arief.
Sementara, bila ditinjau untuk sektor pendidikan juga di daerah harus lebih diperbanyak lab dan pelatihan bahasa asing bagi Pelajar Indonesia didaerah dari tingkatan SMP dan SMA, karena akan sangat membantu nantinya bagi pelajar daerah untuk bisa mempelajari pengetahuan yang buku bukunya dicetak dalam bahasa asing.
"Kalau tidak ada itu semua. Jangan harap MEA akan jadi sebuah berkat bagi Indonesia, tapi justru sebuah kecelakaan ekonomi bagi Indonesia karena tidak sanggup bersaing," pungkasnya.(bh/mnd)
|