JAKARTA, Berita HUKUM - Ada 10 teater yang tampil dalam tiga hari helatan Festival Antikorupsi 2014 pada pekan lalu, 21-23 November di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. Semua personel teater itu, berusia relatif masih muda yang berasal dari SMA dan organisasi kepemudaan di Jadebotabek. Mereka mengemas pesan antikorupsi dalam sebuah pertunjukan gerak, mimik, suara dan bunyi.
Dalam perspektif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pemberantasan korupsi harus melibatkan semua elemen bangsa. Tak terkecuali kaum muda yang identik dengan semangat yang bergelora dan kreativitas yang nyaris tanpa batas. Karena itu pula, upaya pencegahan korupsi, pada khususnya, harus disajikan dalam kemasan yang apik, agar mudah dinikmati masyarakat.
Salah satu upaya itu, KPK menggunakan medium seni dan budaya dalam mengemas pesan antikorupsi. Kali ini, KPK bekerja sama dengan Komunitas Bung Hatta Anti Corruptions Award dan Suara Untuk Negeri (SUN) menyelenggarakan Festival Anti Korupsi 2014 pada 21-23 November lalu di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. Ada sekitar dua ribu mata yang menyaksikan 10 kelompok finalis yang berasal dari sekolah menengah atas dan organisasi kepemudaan di Jadebotabek.
Sekjen KPK, Himawan Adinegoro mengatakan, kegiatan teater dalam rangka pencegahan korupsi di kalangan muda, tak kalah penting dengan program pencegahan yang dilakukan KPk di bidang lain. Sebab, “KPK tidak mungkin bisa memberantas korupsi hanya sendiri, melainkan perlu dukungan dari semua pihak,” katanya pada saat pembukaan kegiatan.
Ia berharap dari bidang seni dan budaya, para seniman bisa meredam perilaku koruptif di kalangan generasi muda. Kalau bisa, “Kita menjadi alergi terhadap korupsi,” katanya.
sementara itu, Ketua pelaksana kegiatan, Titi Margesti mengatakan, tugas memberantas korupsi bukan hanya tugas KPK, tapi juga masyarakat. “Termasuk generasi muda harus bersama-sama dan tidak tinggal diam utk melakukan pencegahan korupsi,” katanya.
Sebab, ia menyadari bahwa dampak korupsi tak mengenal batas usia. Dan generasi muda merupakan harapan masa depan bangsa Indonesia. Karena itu, Titi yakin, generasi mudah relatif masih bisa dibentuk sedemikian rupa dengan nilai yang luhur, sehingga ia berharap medium seni akan mempermudah generasi muda menyerap makna dan pesan antikorupsi melalui pertunjukan teater. "Kita tetap harus memeprhatikan cara penyampaian dengan hal menyenangkan jadi lebih mengena,”katanya.
Dalam festival itu, Teater Detik SMA 86 berhasil meraih Juara I dengan pertunjukan yang bertema "Ketawa Pake Kentut". Sedangkan Juara II, diraih oleh Teater Patlapiti SMA 48 dengan tema "Dan Malam Berganti Pagi”, dan Juara III diraih Teater Hang Tuah dari SMA Hang Tuah dengan tema "Tan Tin Tun Was Wes Wus Gubrak Prak.”
Sebelumnya, acara ini diawali dengan roadshow ke sejumlah sekolah di DKI Jakarta. Kemudian diadakan seleksi naskah teater dan dipilih 10 finaslis untuk dilakukan pembinaan yang dilakukan oleh para seniman teater.(kpk/bhc/sya) |