CARACAS (BeritaHUKUM.com) - Negara-negara “merah” di kancah internasional terus memperkuat diri dengan membangun instrumen-instrumen kekuatan, khususnya kemiliteran. Setelah Korut dan Iran, kini giliran Venezuela.
Di tengah desakan dan kekuatan negara Paman Sam dan sekutunya, yang terus menginvasi negara-negara kecil melalui kekuatan ekonomi, kini Venezuela sedang merakit senapan serbu bernama Kalashnikov (AK-103) serta memproduksi pesawat pengebom. Produksi ini bekerja sama dengan Rusia.
Penguatan negara Venezuela ini disampaikan langsung oleh Sang Presiden Hugo Chavez. Disampaikan Presiden yang tak gencar pada manuver-manuver Amerika Serikat itu menyatakan bahwa Venezuela sudah memulai membuat granat, amunisi, serta pesawat pengintai. Persenjataan ini bukanlah persiapan perang maupun persiapan pengacauan, melainkan sekadar membangun pertahanan negara, yang tentunya akan membuat Venezuela semakin leluasa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan politik internasional yang dikeluarkan Amerika Serikat dan sekutunya.
"Kami tidak berniat menyerang siapa pun. Proyek ini bertujuan untuk membangun pertahanan serta perdamaian," terang Chavez, seperti dikutip Associated Press, Kamis (14/06).
Sementara itu, ketua pengelola produsen senjata Venezuela, Jenderal Julio Cesar Morales Preto, menyatakan bahwa sampai saat ini terdapat 3 ribu senapan AK-103 yang telah dirakit. Jumlah ini merupakan total senjata yang berhasil dirakit sejak Venezuela dan Rusia menandatangani perjanjian pembangunan pabrik perakitan senjata Kalashnikov pada 2005 lalu.
"Produksi telah dimulai bahkan ketika pabrik tersebut belum selesai dibangun. Pabrik ini nantinya mampu memproduksi 25 ribu senapan AK-103 setiap tahunnya," ujar Jenderal Morales Preto.
Produksi telah dimulai meskipun pabrik belum diselesaikan. Kapasitasnya, akan memproduksi 25.000 senapan dalam setahun. (bhc/frd)
|