JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Musisi Vicky Sianipar menyatakan, selama ini pentas kebudayaan Indonesia tidak pernah dipromosikan generasi muda dengan kemasan yang lebih menarik.
Menurut seniman music etnik ini, generasi mudalah yang bisa melestarikan sebuah kebudayaan. “Tetapi kemasannya harus sesuai dengan jiwa anak muda. Agar ada rasa cinta terhadap kebudayaan sehingga 30 tahun kedepan pun, kebudayaan kita masih tetap ada,” ujar Vicky saat diwawancara TVone, Selasa (19/6).
Vicky menambahkan, dengan pengemasan kebudayaan ini. Diharapkan para generasi muda mempunyai rasa cinta terhadap kebudayaannya. “Dengan dikemas dengan selera anak muda, sehingga para generasi muda merasa menyesal jika tidak menyaksikan kebudayaannya. Duh gw gak nonton Tari Pendet nih, duh gw takut nanti dikata gak gaul,” tambahnya.
Untuk itu, Vicky berharap adanya bantuan dari pemerintah dan media massa untuk mengemas atraksi kebudayaan yang lebih interaktif. Dan terkait dengan klaim Malaysia akan kebudayaan Indonesia. Menurut Viky, jika saja kebudayaan di Indonesia menjadi tuan rumah dinegeri sendiri maka hal itu tidak akan terjadi.
Sementara itu pada kesempatan yang sama, Direktur Internalisasi dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Prof Dr Etty Indriati menyatakan pihaknya sudah mengadakan kegiatan pementasan maestro kebudayaan. “Meskipun jumlahnya masih sekitar 50 kebudayaan dan nantinya akan diperluas untuk mengidentifikasi kelestarian kebudayaan,” ungkapnya.
Seperti diketahui, karena kurang mendapatkan perhatian. Beberapa kebudayaan Indonesia diklaim oleh Malaysia. Diantaranya.Tari Pendet, Batik, Angklung, Wayang Kulit dan Gamelan serta yang ramai diberitakan, Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan.(bhc/biz)
|