Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Skotlandia
Warga Skotlandia 'Deg-degan Menantikan Hasil' Referendum
Friday 19 Sep 2014 08:40:25
 

Hasil referendum akan diumumkan Jumat (19/09) pagi waktu setempat.(Foto: Istimewa)
 
SKOTLANDIA, Berita HUKUM - Setelah 307 tahun di bawah Britania Raya, Skotlandia mendatangi tempat-tempat pemungutan suara untuk referendum yang akan menentukan apakah Skotlandia akan menjadi negara terpisah, atau tetap di bawah Britania Raya. Salah seorang warga yang ikut memilih adalah Diana Frost, seorang warga Edinburgh, ibukota Skotlandia, yang pernah tinggal lama di Indonesia.

Ia begitu antusias, sehingga berangkat cukup pagi agar sampai di tempat pemungutan suara sejak pukul 08:00 pagi dan banyak pemilih lain juga sudah antre.

“Suasananya tenang, tapi cukup ramai,” kata Diana Frost dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

“Memang orang-orang berminat betul dengan pemungutan suara ini. Saya tidak pernah mengalami (antusiasme sebesar) ini sebelumnya di UK, United Kingdom (Britania Raya) maupun di Skotlandia,” jelasnya lagi.

Diana Frost adalah seorang dosen Bahasa Inggris yang pernah tinggal belasan tahun di Indonesia, mengajar di berbagai universitas di Jakarta, Medan, dan Padang. Bahasa Indonesianya, tak heran, sangat fasih.

Sejak awal sebenarnya Diana Frost sudah memiliki pilihan, di antara Yes atau No – dua pilihan yang harus diambil di bilik pemungutan suara. Namun ia merasa perlu menguji pilihannya dan membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang konsekuensi dari pilihan-pilihan itu.

“Karenanya saya cukup sering mengikuti berbagai diskusi dan debat antara kedua kubu, di berbagai tempat di kota saya.”

Deg-degan

Dan akhirnya, setelah mengikuti berbagai diskusi dan debat, Diana Frost membulatkan pilihannya.

“Saya deg-degan juga, menanti bagaimana hasil referendum ini,” kata Diana sembari menjelaskan lagi, bahwa ia akan mengikuti seksama pengumuman hasil pemilihan rakyat Skotlandia ini.

“Karena, hasilnya ini akan sangat menentukan masa depan Skotlandia dan juga Inggris raya.”
Diana Frost mengaku sempat cemas juga, mengingat berdasarkan jajak pendapat, pendukung kedua kubu hampir sama kuat. Persaingan amatlah ketat.

“Sempat khawatir, bagaimana orang nanti bisa bersatu sesudah ada hasilnya. Tapi rasanya akan baik-baik saja. Akan ada yang kecewa dan ada yang gembira. Tapi kami akan harus hidup dengan keputusan itu,” tegas Frost.

Apapun hasilnya, kata Frost, Skotlandia baru nanti akan berubah.

Jika tetap dalam Britania Raya, akan ada perubahan dengan otonomi lebih luas di berbagai bidang sebagaimana dijanjikan.

Jika jadi negara sendiri, ini jelas akan merupakan kenyataan baru dengan berbagai kerumitannya.(BBC/bhc/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Polri Amankan 321 WNA Operator Judi Online Scam Jaringan Internasional di Kawasan Hayam Wuruk

Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

 

ads2

  Berita Terkini
 
Polri Amankan 321 WNA Operator Judi Online Scam Jaringan Internasional di Kawasan Hayam Wuruk

Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2