Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Tol Laut
Biaya Logistik Masih Mahal, Asperindo: Tol Laut Hanya Wacana!
2016-03-21 22:19:20
 

Ilustrasi. Kapal Laut Ferry penyebrangan antar pulau untuk mengangkut kendaraan dan barang.(Foto: BH/sya)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Rencana pemerintah yang ingin memaksimal potensi maritim dengan mengembangkan tol laut agar biaya logistik dapat lebih murah masih dianggap wacana oleh kalangan pengusaha.

"Selama ini belum terasa manfaatnya (tol laut). Mau masuk pelabuhan saja antriannya luar biasa," keluh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Muhammad Kadrial, di Jakarta, Senin (21/3).

Selama ini pemerintah kerap berjanji, dengan adanya tol laut akan menekan biaya logistik yang selama ini dianggap masih tinggi. Menurut pemerintah, tol laut ini akan menekan biaya logistik menjadi 7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Saat ini, kata dia, menurut lembaga konsultan global, Roland Berger, untuk negara-negara ASEAN, Indonesia menjadi negara berbiaya logistik terbesar sekitar 30 persen dari PDB.

Dan jika pemerintah serius membenahinya, maka di 2020 akan mencapai 19 persen. Serta di tahun 2035 baru akan mencapai 9 persen.

Namun faktanya, lanjut Kadrial, selama 1,5 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjabat, tol laut itu masih dianggap sebatas konsep.

Kata dia, jika mau mengembangkan tol laut, maka pengembangan pelabuhan tentu menjadi hal penting. Tapi yang ada perbaikan layanan dan kondisi di pelabuhan belum maksimal. Maka tetap saja biaya logistik akan mahal.

"Ini yang dikeluhkan oleh kalangan pengusaha. Sementara dalam bisnis ini persaingannya ketat. Apalagi sudah ada pasar bebas ASEAN (MEA), jadi pemerintah harus benahi dulu infrastruktir di sekitar pelabuhan itu," tandasnya.

Karena peluang di bisnis ini, masih besar. Apalagi dari sisi kondisi geografis, sangat menyokong bertumbuhnya industri logistik semakin pesat.

"Kami targetkan pertumbuhan sektor ini bisa mencapai 14 persen. Kalau tol laut jadi bisa lebih besar lagi," jelasnya.

Pada intinya, Asosiasi mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan tol laut. Karena memang, jika infrastruktur ini jadi dapat meningkatkan arus barang dan jasa, peningkatan logistik nasional, serta biaya logistik menjadi lebih kompetitif.

"Tapi masalahnya konsep tol laut itu kapan? Jangan hanya wacana. Agar di tengah persaingan global, bisnis ini dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," pungkas dia.(ArbieMarwan/aktual/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2