Negara yang memiliki fluktuasi iklim ekstrem akibat El Nino, berpotensi mengalami perang saudara dua kali lipat dibanding negara yang kurang terpengaruh.
Ketua peneliti Princeton University, Solomon M. Hsiang menyatakan, dirinya dan rekan-rekan mempelajari hubungan El Nino dengan kekacauan politik di 175 negara yang berbeda antara 1950-2004.
Ternyata 6 persen perang saudara terjadi di negara-negara yang terpengaruh oleh fenomena alam tersebut. Sedangkan dengan negara yang tidak terpengaruh El Nino, peluang terjadinya perang saudara hanya 3 persen.
�Penelitian ini menunjukan pola sistematik dari pengaruh iklim global terhadap konflik dan data-data menunjukkan itu,� jelasnya seperti dikutip nationalgeographic.com,
Hsiang menambahkan hasil penelitiannya tidak cukup membuat hubungan secara langsung sebab � akibatnya. Tetapi secara garis besar El Nino berkontribusi terhadap berbagai faktor yang memicu pertikaian. Sebagai contoh, produksi pertanian menurun akibat El Nino. Akibatnya, ekonomi memburuk, pengangguran meningkat, dan menimbulkan kegelisahan di dalam masyarakat.
Terbukti dalam 234 perang saudara, ternyata 30 % terjadi di negara tropis ada hubungannya dengan hadirnya El Nino. Dan peperangan tersebut terjadi bersamaan dengan hadirnya El Nino. Negara yang di pelajari adalah Sudan, El Salvador, Filipina, Uganda, Angola, Haiti, Burma, Eritrea, Indonesia, Kamboja, dan Rwanda.
Ditanya apa tujuan dari penelitian ini, rekan peneliti Hsiang, Kyle Meng menjelaskan, agar pemerintah, di negara bersangkutan dapat mempersiapkan diri mengahadapi terjadinya perang saudara pada saat El Nino melanda.
�Kami bisa memprediksikan hadirnya tahun-tahun El Nino, dan berdasarkan hasil penelitan kami, kemungkinan terjadinya kekerasan di kawasan tropik akan meningkat secara dramatis. Setidaknya, pemerintah setempat dan lembaga nasional bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tersebut,� jelasnya.
El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya.
Pemberian nama El-Nino pada fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada bulan Desember. El-Nino (bahasa Spanyol) sendiri dapat diartikan sebagai �anak lelaki�. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La-Nina (juga bahasa Spanyol) yang berarti �anak perempuan�. Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun.(ngi/biz)
|