Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
White Crime    
Kasus Suap Pajak PT Bhakti Investama Tbk
Hakim Tolak Keberatan Tommy
Tuesday 20 Nov 2012 19:03:02
 

Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta Pusat (Foto: Ist)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Majelis Hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menolak nota keberatan (eksepsi) terdakwa kasus dugaan suap terkait pengurusan restitusi pajak PT Bhakti Investama Tbk, Tommy Hindratno.

Menurut majelis hakim, materi eksepsi yang diajukan mantan pegawai Dirjen Pajak itu maupun tim penasihat hukumnya sudah menyangkut pokok perkara, sehingga keberatan tersebut tidak dapat diterima.

"Menyatakan bahwa eksepsi terdakwa tidak dapat diterima, menyatakan surat dakwaan penuntut umum sah, oleh karenanya memerintahkan penuntut umum untuk melanjutkan pemeriksaan perkara," ujar Ketua Majelis Hakim Dharmawati Ningsih saat membacakan putusan sela di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/11).

Sebelumnya, dalam eksepsinya Tommy membantah telah menjadi konsultan pajak. Dia berkilah hanya membantu memberikan penjelasan pajak kepada pihak yang membutuhkan.

Dia juga berkelit tentang peranannya dalam mempengaruhi proses pemeriksaan pajak pada PT Bhakti Investama Tbk. Menurut dia, laporan yang didapatkan dari temannya yang bernama Feri Syarifuddin merupakan produk akhir pemeriksaan. Jadi, Tommy mengaku tidak merasa mempengaruhi dalam proses penentuan pajak.

Namun, Tommy mengakui bahwa perbuatannya kepada terpidana James Gunaryo tersebut telah melanggar kode etik pegawai pajak. "Pelanggaran kode etik tidak bisa dituntut pidana. Ini adalah kesalahan kecil yang saya buat dan tidak seharusnya tidak dihukum berat," bela Tommy.

Dalam kasus ini, Tommy didakwa menerima suap senilai Rp 280 juta terkait pengurusan restitusi pajak PT Bhakti Investama. Uang itu diberikan kepada Tommy oleh Komisaris Independen Bhakti Investama Antonius Z Tonbeng melalui James Gunarjo.

Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) menilai, uang Rp 280 juta yang diterima Tommy itu patut diduga sebagai imbalan karena terdakwa telah memberikan data atau informasi mengenai hasil pemeriksaan Ditjen Pajak terkait proses pengajuan klaim restitusi pajak Bhakti Investama senilai Rp 3,4 miliar sehingga diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).

Atas perbuatannya, jaksa mendakwa Tommy dengan tiga dakwaan alternatif. Mantan Kepala Seksi dan Pengawasan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sidoarjo itu dijerat Pasal 12 huruf b, Pasal 5 ayat 2, atau Pasal 11 UU Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dengan ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 1 miliar.(kpk/bhc/rby)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?

Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2