Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Pidana    
Kasus Pembunuhan Raafi
Jaksa Minta Hakim Tolak Eksepsi Febry
Tuesday 17 Apr 2012 05:15:36
 

Ilustrasi pembunuhan (Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) menilai, Eksepsi terdakwa kasus pembunuhan Raafi Aga Winarsya Benjamin , Sher Muhammad Febry Awan alias Febry , tidak mempunyai dasar hukum yang tepat.

“Sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 156 ayat (1) KUHAP, pasal 143 ayat (2) KUHAP. Dengan demikian, Jaksa Penuntut umum memohon agar majelis hakim memeriksa dan mengadili perkara ini agar menyatakan surat dakwaan penuntut umum disusun sudah secara cermat, serta menolak eksepsi penasehat hukum terdakwa," ujar Jaksa, Dedy Sukarno di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (16/4).

Sementara itu, terdakwa Febry meminta kepada Majelis Hakim agar memutuskan persidangan ini dengan membuka hati, ia bersikukuh tidak melakukan perbuatan apa yang didakwakan. "Majelis hakim saya minta memutuskan dengan membuka hati. Saya tidak pernah melakukan dan saya bukan pelaku agar ini jadi pertimbangan," ucapnya.

Usai persidangan, salah satu Kuasa Hukum Febry, Endi Martono menyatakan Eksepsi yang ditujukan adalah tidak menyangkut substansi perkara. Tetapi pihaknya menyerahkan hal tersebut kepada Majelis Hakim pada putusan sela.

Meski demikian Endi menambahkan, pihaknya akan menghadirkan beberapa saksi untuk membuktikan bahwa kliennya bukanlah pembunuh Raafi. "Insya Allah kami punya saksi yang mengetahui siapa pembunuhnya. Kita punya saksi yang tidak ada di BAP," ujarnya.

Pada Persidangan sebelumnya, tim Kuasa Hukum memberikan esksepsi yang menjelaskan bahwa surat dakwaan dibuat saat Febry di dalam tahanan Polres Jakarta Selatan. Lalu pada surat dakwaan pertama maupun dalam dakwaan kedua bagian cara-cara perbuatan dibuat dengan copy-paste. Rumusan pasal surat dakwaan tidak menempatkan rumusan gabungan perbuatan sebagaimana diatur dalam bab VI pasal 65 ayat (1) KUHP.

Febri sendiri ditetapkan sebagai Terdakwa pelaku pembunuhan sekaligus pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Raafi Aga Winasya Benjamin. JPU pun telah mendakwa Febri dengan tiga Pasal utama. Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, pasal 170 ayat (2) KUHP tentang tindak kekerasan secara bersama-sama, dan Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan hingga matinya seseorang.

Raafi sendiri adalah siswa Pangudi Luhur I, yang tewas di kafe Shy Rooftop, Kemang, Jakarta Selatan. pada 5 November tahun lalu dengan luka tusuk di perutnya.(dbs/rob)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2