Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Jokowi
Jokowi Bicara Presiden RI Non Muslim, Anton Tabah: Pemimpin Itu Harus Peka Rasa dan Hati
2020-03-11 10:24:39
 

Irjenpol (Purn) Anton Tabah Digdoyo, Pengurus MUI Pusat.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Siapapun bisa menjadi Presiden Republik Indonesia, termasuk sosok dari kalangan nonmuslim. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sebuah wawancara eksklusif bersama dengan BBC Indonesia beberap waktu lalu.

Sontak, pernyataan Presiden Joko Widodo ini menuai kritik keras dari Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anton Tabah Digdoyo.

"Orang cerdas apalagi pemimpin itu harus peka rasa, peka hati. Orang bodoh kebalikannya, tak peka rasa tak peka hati, bahkan mati rasa. Maka falsafah Jawa ada ajaran ngono yo ngono ning ojo ngono," kata Anton Tabah kepada redaksi, Selasa (10/3).

Menurutnya, pernyataan Presiden Jokowi tak elok lantaran selain mayoritas masyarakat muslim, saat ini Indonesia juga sedang dihadapkan dengan beragam masalah. Publik tanah air juga saat ini sedang mengalami fenomena distrust atau ketidakpercayaan kepada pemerintah.

Ia pun mengkritisi tim komunikasi di balik sosok mantan Gubernur DKI Jakarta itu yang dianggap kurang cakap dalam melihat situasi dan kondisi terkini.

Hal lain yang tak kalah dikritisi adalah keputusan Presiden Jokowi yang kembali 'menghidupkan' nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masuk dalam kandidat Kepala Otoritas Ibukota Negara (IKN). Padahal, masyarakat belum lupa dengan kasus penistaan agama yang menimpa Ahok dan berujung ke jeruji besi.

"Dalam perspektif komunikasi politik maupun sosial, Jokowi seperti menentang arus, memantik kemarahan sosial. Seperti tak ada orang saja, bekas penista agama dijadikan pemimpin," tegasnya.

Jokowi juga harus memegang teguh falsafah Jawa, yakni angon angin (mencari waktu yang terbaik). Menurutnya,NKRI adalah negara muslim terbesar di dunia, di mana bangsa lain akan menghormati mayoritas.

"Perkataan (Jokowi) tidak tepat, sangat kontraproduktif karena kerakyatan kebangsaan dan kenegaraan tak cuma dibangun dengan hukum hitam putih, tapi juga filosofis sosiologis apa yang hidup di tengah-tengah masyarakat harus dipertimbangkan bukan asal-asalan lalu semau gue," tandasnya.(dt/RMOL/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Jokowi
 
  PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
  Usai Resmi Ditahan, Hasto Minta KPK Periksa Keluarga Jokowi
  Jokowi Bereaksi Usai Connie Bakrie Sebut Nama Iriana,Terlibat Skandal Pejabat Negara?
  PKS Minta Jokowi Lakukan Evaluasi, Tak Sekadar Minta Maaf
  PKB Sebut Selain Minta Maaf, Jokowi Juga Harus Sampaikan Pertanggungjawaban
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2