Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Jusuf Kalla
Kalla: Tak ada Hubungannya Duta Komodo dengan Politik
Friday 04 Nov 2011 14:52:51
 

Jusuf Kalla (Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Jusuf Kalla membantah tudingan aktivitasnya yang gencar mempromosikan Pulau Komodo sebagai kampanye persiapan untuk maju dalam Pilpres 2014. Masyarakat pun diminta untuk tidak mengaitkan kegiatannya ini dengan politik.

“Tidak benar itu. (Duta Komodo) ini tidak ada hubungannya untuk Pilpres 2014. Jangan sangkut pautkan dengan politik. Ini murni untuk membantu masyarakat NTT. ," jelas Kalla kepada wartawan di kantor pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Jakarta, Jumat (4/11).

Kalla pun merasa heran dengan penilaian miring tersebut. Peranannya sebagai mantan Wapres, kata dia, tidak ada hubungannya sama sekali dengan aktivitasnya memperkenalkan Pulau Komodo. Justru dengan mempromosikan Pulau Komodo, yang lebih terkenal adalah komodo ketimbang dirinya. "Coba Anda nilai, yang lebih terkenal itu, saya atau komodo," imbuhnya.

Ia hanya berharap posisi Pulau komodo yang saat ini berada di urutan keempat, dapat menjadi lebih baik lagi. Dengan keterlibatan dirinya dalam mempromosikan Pulau Komodo, setidaknya keberadaan pulau itu makin dikenal di seluruh dunia dan benar-benar dapat menjadi salah satu dari tujuh situs keajaiban dunia. “Mudah-mudahan bisa tercapai,” tandas Kalla.

Pada bagian lain, Kalla juga berharap kegiatan promosi Pulau Komodo ini tidak terganggu dengan masalah Papua, khususnya aksi mogok kerja karyawan PT Freeport Indonesia. Menurut dia, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk bernegosiasi ulang dengan Freeport demi kesejahteraan Indonesia, khususnya rakyat Papua.

“Masalah mogok kerja karyawan Freeport itu lebih disebabkan ketidakadilan. Saya pun meminta hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan itu menjadi lebih baik. Seharusnya pemerintah dan masyakarat harus mendukung pekerja untuk terus negosiasi mencapai kesepakatan yang lebih baik dengan manajemen Freeport," jelas dia.

Terkait desakan negosiasi ulang atas kontrak karya antara Indonesia dengan PT Freeport, Kalla mengakui, hal ini terbilang masalah sensitif. Tapi bisa sangat mungkin untuk dilakukan. Pasalnya, setiap negara bisa memperbaiki posisinya demi kepentingan rakyatnya. “Soal bagi hasil dan harus ada persentase royalti. Ini sangat penting," tandasnya.(inc/biz)



 
   Berita Terkait > Jusuf Kalla
 
  Jusuf Kalla Benarkan Gosip Sering Beda Pendapat dengan Jokowi
  Jusuf Kalla: UUD Boleh Berubah, Tetapi Tidak Merubah Visi Para Pendiri Bangsa
  Menurut JK Ketidakadilan Ciptakan Kesenjangan Sosial
  Terima Tim 9, Wapres: Polisi dan KPK Tidak Boleh Periksa Orang Yang Tidak Ada Tindak Kriminal
  Wapres: Cegah Konflik, Jaga Persatuan, Kemakmuran dan Keadilan
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2