Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Yaman
Krisis Yaman: Bentrok Kelompok Sunni-Syiah Menewaskan 26 Orang
Sunday 15 Feb 2015 16:32:12
 

Unjuk rasa menentang kelompok Houthi digelar semenjak kelompok ini mengambil alih kekuasaan politik di Yaman. Negara-negara Arab mengkhawatirkan perkembangan politik di Yaman yang dapat berubah menjadi krisis politik.(Foto: twitter)
 
YAMAN, Berita HUKUM - Sedikitnya 26 orang tewas akibat bentrokan antara warga Sunni dan Syiah di wilayah selatan Yaman sepekan setelah kelompok pemberontak Houthi yang menganut Syiah mengambil alih kekuasaan politik negara itu. Sementara itu, pimpinan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengizinkan penggunaan kekuatan militer di Yaman untuk menyelesaikan krisis politik di negara itu.

Ini adalah hari kedua unjuk rasa berskala nasional menentang aksi politik kelompok Houthi yang telah membubarkan parlemen dan membentuk dewan yang bertindak seperti presiden.

Amerika Serikat, Turki dan sejumlah negara Arab telah menarik Duta besarnya dari Yaman menyusul krisis politik di negara tersebut.

Pimpinan negara-negara Arab mengkhawatirkan krisis politik di Yaman dan telah meminta agar dunia internasional untuk terlibat.

Seorang petugas medis kepada Kantor berita Reuters mengatakan, kelompok Houthi yang bersenjata menembak pengunjukrasa di pusat Kota Ibb, yang menyebabkan empat orang terluka.

Iran membantah

Pemicu unjuk rasa anti kelompok Houthi ini dilatari kematian seorang tokoh, Saleh al-Bashiri, setelah dia ditangkap oleh kelompok bersenjata di Kota Sanaa sekitar dua pekan lalu, kata para aktivis.

Dia kemudian dibebaskan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi terluka diduga akibat penyiksaan. Sejauh ini belum ada komentar dari Kelompok Houthi.

Para penentang kelompok Houthi menuduh Iran berada di balik upaya pengambilalihan kekuasaan politik di Yaman. Iran berulangkali membantah tuduhan ini.

AS dan PBB sebelumnya telah memprihatinkan terhadap pengambilalihan kekuasaan politik di Yaman.
Tindakan politik kelompok Houthi itu dianggap AS "tidak memenuhi standar solusi berbasis konsensus".(BBC/bhc/sya)



 
   Berita Terkait > Yaman
 
  Senat AS: Hentikan Dukungan Amerika pada Arab Saudi dalam Perang di Yaman
  Perang di Yaman: 'Bencana Kemanusiaan Terburuk Selama Satu Abad'
  PBB: Korban Tewas Konflik Yaman Lampaui 10.000 Jiwa
  Korban Tewas Serangan Pesta Pernikahan di Yaman Jadi 130 Orang
  KBRI Di Sanaa Terkena Bom, 2 Orang Staf Terluka
 
ads1

  Berita Utama
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

 

ads2

  Berita Terkini
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2