JAKARTA, Berita HUKUM - Lonjakan suara partai berbasis Islam di Pileg 2014 lalu harus jadi momentum untuk lahirnya koalisi. Persatuan di antara partai Islam bisa menjadi kunci kemenangan lanjutan pada Pilpres 2014.
"Harus partai Islam kompak bersatu. Jangan partai A mau ke sana, partai B mau ke sini, partai C mau ke situ," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta, Sabtu (19/4).
Din mengatakan, ormas Islam sudah berupaya menginisasi lahirnya koalisi antarpartai Islam. Antara lain, dimulai lewat pertemuan antartokoh partai dan ormas Islam di Cikini, Kamis (16/4) malam lalu.
Bahkan, pertemuan lanjutan akan segera dilakukan pekan depan. Ia pun meminta partai Islam untuk tidak mengulangi kesalahan pada Pemilu 2009.
Saat itu banyak umat Islam kecewa karena partai Islam tidak bisa berbuat apa-apa dalam menentukan peta besar politik masa depan. Karena partai Islam yang mendapat dukungan besar justru berkoalisi dengan partai lain yang tidak memberi ruang besar untuk memperjuangkan aspirasi umat di pemerintahan.
Saat ini, kata dia, partai Islam belum menunjukan kekompakan. Para pemimpinnya tidak terlihat memiliki visi yang sama satu dengan yang lain.
Din berharap partai Islam bisa mengimplementasikan kepercayaan umat lewat koalisi. "Yang perlu diusahakan koalisi. Belum perlu lebur, tapi suara kebangsaan harus satu," jelasnya.
Dimana, Din Syamsuddin yang mengaku ragu partai politik berbasis massa Islam akan bersatu dan mengusung calon Presiden dan calon wakil Presiden Indonesia sendiri. Dia menilai, partai Islam yang jika ditotal mendapat hasil perolehan quick count sekitar 32 % suara saat ini tidak kompak dan memiliki jalan sendiri-sendiri.
"Saya tidak yakin apakah pemimpin partai Islam punya arah yang jelas yang secara bersama sama mempunyai satu visi misi. Karena partai Islam, atau partai yang berbasis massa Islam, tampil dengan dirinya masing-masing," katanya dalam diskusi bertajuk 'Membaca Arah Politik Islam' di Jakarta, Sabtu (19/4).
Din menilai keberpihakan partai-partai Islam dalam membela masyarakat islam belum sepenuhnya dilakukan. Menurutnya, masih ada beberapa partai Islam yang hingga saat ini justru tidak mementingkan kepentingan kaumnya.
"Keberpihakan mereka dengan Islam belum bersifat substansif. Misalnya ekonomi dalam prespektif Islam itu tidak dilakukan. Jadi kalau ditanya apakah dengan perolehan suara sekarang partai Islam bisa bersatu, tidak hanya orang luar, tapi orang dalam juga susah mencari jawabannya," ujar Din yang juga sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu.
Padahal, Din melihat perolehan suara partai islam dalam pemilu legislatif, jika digabungkan, bisa mencapai lebih dari 30 persen. Hal tersebut setidaknya diketahui berdasarkan hasil hitung cepat berbagai lembaga.(rol/maw/mf/kmp/ihs/cd/bhc/sya) |