Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Amerika Serikat
Pemilu AS: Obama Memperingatkan Nasib Dunia Dipertaruhkan
2016-11-03 15:22:53
 

Obama berkampanye untuk Hillary Clinton.(Foto: Istimewa)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Presiden Barack Obama mendesak seluruh anggota Partai Demokrat dari seluruh latar belakang etnis untuk memilih Hillary Clinton, serta memperingatkan nasib dari Republik AS - dan dunia - menjadi taruhan.

Dia mengatakan pesaing Hillary Clinton, dari Partai Republik Donald Trump merupakan ancaman bagi hak-hak sipil.

Presiden Obama berbicara dalam kampanye di North Carolina.

Trump mengatakan Obama harus berhenti berkampanye untuk Clinton dan fokus untuk menjalankannya negara ini.

"Tidak ada orang yang ingin Obama berkuasa selama beberapa tahun lagi ,"kata dia kepada pendukungnya di Pensacola, Florida.

Trump mengatakan Clinton telah menjadi "gusar" dalam beberapa hari terakhir ini.
"Nasib republik ini berada dipundak Anda," ujar Presiden Obama kepada pendukungnya di negara bagian yang penting di North Carolina.

"Nasib dunia ini tertatih dan Anda, North Carolina, akan memastikan bahwa kita mendorong ke arah yang benar.

"Saya tidak ada surat suara, tetapi saya katakan kepada Anda- bahwa kejujuran ada dalam surat suara; kepatutan ada di surat suara; keadilan ada di dalam surat suara; kemajuan ada di surat suara; demokrasi kita ada di surat suara."

FBI menginvestigasi email-email baru yang kemungkinan penyelidikan itu mengarah ke server email pribadi Hillary Clinton.

Direktur FBI James Comey, mendapat serangan balik karena langkah itu dilakukan 11 hari sebelum pemilihan presiden.

Sebelumnya, Obama secara terbuka mengkritik penyelidikan yang dilakukannya terhadap penggunaan email Hillary Clinton.

Dalam sebuah wawancara dengan situs NowThisNew, yang dipublikasikan pada Rabu, Obama mengatakan investigasi AS tidak seharusnya dijalankan dengan berdasarkan pada "sindiran" atau "informasi yang tak lengkap".(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Amerika Serikat
 
  DPR AS Lakukan Pemungutan Suara untuk Makzulkan Biden
  Amerika Serikat Lacak 'Balon Pengintai' yang Diduga Milik China - Terbang di Mana Saja Balon Itu?
  Joe Biden akan Mengundang Para Pemimpin Indo-Pasifik ke Gedung Putih
  AS Uji Rudal Hipersonik Mach 5, Lima Kali Kecepatan Suara
  Sensus 2020: Masa Depan Populasi AS Bercorak Hispanik
 
ads1

  Berita Utama
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

 

ads2

  Berita Terkini
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2