JAKARTA, Berita HUKUM - Guna mengatasi masalah distribusi, Pertamina kembali menambah armadanya. Pertamina kini telah memiliki kapal Matindok berkapasitas 3500 long ton deadweight LTDW.
“Kapal Matindok ini tidak hanya merupakan usaha Pertamina dalam menjamin distribusi BBM ke seluruh pelosok negeri terutama di daerah yang kondisi geografis sangat menantang, tapi juga daerah konflik yang belum tentu kapal charter bersedia untuk melayani,” papar Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir, Jakarta, Senin (30/7).
Selain wujud kepatuhan Pertamina terhadap azas cabotage, kepemilikan ini juga turut membantu peran transportasi Pertamina dalam mendistribusikan pasokan ke berbagai wilayah. Hal ini juga terkait pemberdayaan bisnis maritim.
Kapal yang ke-51 yang dimiliki Pertamina ini dibangun oleh PT Dumas Tanjung Perak Shipyard. Totalnya, Pertamina memiliki 175 kapal sebagai alat transportasi distribusi dalam negeri. Kapal Matindok mulai beroperasi pada akhir September, dan direncanakan mengangkut BBM dari Ternate, Kupang, Plaju dan Padang ke daerah-daerah di Nusa Tenggara Timur, Pontianak, dan Bengkulu.
Pertamina telah menempatkan diri sebagai pioneer dalam pemberdayaan bisnis maritim dalam negeri, termasuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas galangan dalam negeri. Sejauh ini, selain merupakan pemesan terbesar kapal-kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, Pertamina juga melaksanakan docking repair di galangan kapal nasional.
Hingga akhir 2013, Pertamina direncanakan akan memiliki 64 kapal yang berstatus milik sendiri. Sebanyak 29 kapal atau 47% merupakan kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, 21 unit di antaranya telah beroperasi dan delapan unit masih dalam tahap konstruksi oleh PAL, DPS, Dumas, dan Daya Radar Utama.(bhc/frd) |