Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Beras
Rizal Ramli: Impor Beras Dikelola Kartel
2018-09-21 11:03:30
 

Ilustrasi. Screenshot Tweet akun media sosial Dr. Rizal Ramli @RamliRizal terkait polemik Beras.(Foto: twitter)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Ekonom Rizal Ramli mengungkapkan, impor beras yang selama ini dilakukan ternyata dikelola oleh para kartel. Mereka mendapat keuntungan luar biasa besar. Padahal, harga beras, gula, dan bawang putih sangat murah di luar negeri. Hampir setengahnya dari harga di Indonesia. Tidak ada alasan mendesak bagi pemerintah, melakukan impor beras saat ini.

"Matahari di Indonesia terbit sepanjang tahun. Tidak ada negara di dunia yang mataharinya seperti Indonesia dan Brazil. Brazil sudah mandiri dan menjadi eksportir gula dan lain-lain. Tidak ada negara yang airnya berlimpah seperti Indonesia. Australia seperempat tanahnya gurun pasir. Harusnya kita jadi lumbung pangan untuk Asia atau dunia," kata Rizal pada diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk "Polemik Impor Beras" di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (20/9).

Menurutnya, bila ada political will, Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia dalam 4 sampai 5 tahun ke depan, asal semua mekanismenya diubah. Namun, saat ini Indonesia sengaja diciptakan bergantung pada impor. Para kartel itulah yang menciptakannya, karena memburu keuntungan besar. "Ada kebijakan yang menciptakan ketergantungan terus menerus secara permanen. Impor pangan ke Indonesia dikelola oleh kartel," imbuhnya.

Sistem impor yang ada sekarang menggunakan sistem kuota atau penunjukkan. Maka yang dapat kuota akan meraih keuntungan yang sangat besar. Rizal menyatakan, dulu, ketika dirinya masih menjadi Menko Maritim di Kabinet Jokowi, sempat mengusulkan dalam Sidang Kabinet, agar sistem kuota diubah menjadi sistem tarif. Siapa pun boleh mengimpor asal bayar tarif 25 persen. Presiden Jokowi setuju usulan itu, tapi kementerian terkait tak menjalankannya.

"Dengan sistem tarif itu, otomoatis harga daging akan turun 75 persen, harga gula akan turun 75 persen, harga kedelai akan turun 75 persen, harga beras dan lain-lain juga akan turun. Kalau Pak Jokowi setuju itu, sama saja kita kasih uang Rp50 ribu kepada ibu-ibu rumah tangga golongan menengah. Sayangnya, para menteri tak menjalankan. Loyalitas mereka sama partai bukan Jokowi, karena sistem kuota menguntungkan para elit," imbuh Rizal.

Ditambahkannya, apa yang dilakukan Menteri Perdagangan dengan mengimpor beras sekali lagi tidak tepat. Padahal, Dirut Bulog sudah mengatakan stok beras masih cukup. Saat memasuki musim hujan, produksi beras hanya turun setengahnya dan itu masih cukup. Kecuali, sambung Rizal, bila ada gelombang panas datang seperti elnino, maka harus impor beras samapai 2,5 juta ton.

"Tahun ini banyak hujan, tapi tidak ada alasan impor berlebihan. Kalau impor berlebihan, beras akan disimpan di gudang Bulog selama dua tahun. Akhirnya, beras diserang kutu. Begitulah kalau stok berlebihan, karena semangat impor. Itu memang ada rente ekonominya. Kalau musim hujan sebaiknya jangan impor, kecuali musim panas banget seperti elnino," seru Rizal.(mh/sf/DPR/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Beras
 
  Pemerintah Siap Tambah Impor Beras 1,6 Juta Ton, Total Jadi 3,6 Juta Ton
  Harga Beras Naik 'Tertinggi dalam Sejarah' - 'Ini Sangat Tidak Masuk Akal karena Kita Negara Agraris'
  Beras Langka Jelang Ramadhan, Legislator Ingatkan Pemerintah
  Pemerintah Potensi Impor 5 Juta Ton Beras, Komisi IV Soroti Tajam Keberpihakan Terhadap Nasib Petani
  Polemik Data Beras, Komunikasi Publik Antar 'Stakeholder' Pemerintah Harus Terbangun Baik
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?

Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2