Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Kriminal    
Kasus Tewasnya Siyono
Setelah Didesak Muhammadiyah, Polri Akui Ada Kesalahan Prosedur Densus 88
2016-03-18 12:58:23
 

Jenazah Siyono terduga teroris setelah di sholatkan di Brengkungan, Cawas, Klaten, Minggu (13/3) dini hari. Siyono terduga teroris asal Klaten meninggal saat proses penyelidikan dilakukan Kepolisian, hingga saat belum diketahui penyebab meninggalnya Siyono.(Foto: Antara/AloysiusJarotNugroho)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Setelah PP Muhammadiyah mendesak kepada Polri dan lembaga - lembaga terkait agar dilakukan pengusutan tentang meninggalnya salah satu ummat islam yang baru diduga terlibat terorisme yakni almarhum Sriyono akhirnya Mabes Polri mengakui adanya kesalahan prosedur dalam pemeriksaan yang dilakukan Densus 88.

Kepolisian Negara Republik Indonesia mengungkapkan adanya kesalahan prosedur standar operasi dalam pemeriksaan yang dilakukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri terhadap terduga teroris Siyono, yang menyebabkan dirinya meninggal, pekan lalu.

Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri langsung menyelidiki dugaan kelalaian yang dilakukan anggota Densus 88 tersebut. "Terjadi kesalahan prosedur, Kami menyayangkan, juga mempertanyakan," ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Anton Charliyan, dalam keterangan pers di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (14/3) lalu.

Untuk mengungkap kebenaran dari peristiwa itu, kata Anton, Divisi Propam Polri mengadakan penyelidikan. Sejumlah anggota, mulai dari ketua tim hingga anggota yang melakukan pengawalan, secara bergantian akan dimintai keterangan.

Sebelumnya Sekjen PP Muhammadiyah mengatakan Muhammadiyah sangat mendukung pemberantasan dan pencegahan terorisme. Namun langkahnya harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum. Terkait dengan peristiwa Klaten, banyak pihak menyayangkan cara penangkapan yang cenderung brutal oleh Densus.

"Kami melihat ada kemungkinan Densus berbohong terkait penyebab kematian terduga teroris karena kelelahan berkelahi," katanya.(arf/sp/sangpencerah/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"

 

ads2

  Berita Terkini
 
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"

Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2