Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Mesir
Terusan Suez Sudah Bisa Dilewati, Mesir Buka Penyelidikan terhadap Kapal Kontainer yang Kandas
2021-04-01 06:43:12
 

Ever Given kini berlabuh di Danau Pahit Besar, tempat ia menjalani penyelidikan.(Foto: GETTY IMAGES)
 
MESIR, Berita HUKUM - Mesir resmi memulai penyelidikan terhadap kapal kontainer raksasa yang memblokir Terusan Suez dan mengganggu perdagangan global selama hampir satu minggu.

Penasihat Otoritas Terusan Suez Sayed Sheaysha mengatakan tim pakar akan naik ke kapal Ever Given pada hari Rabu (31/03) dan mengumpulkan data yang relevan dengan insiden tersebut.

Penyelidikan ini akan memeriksa kelayakan kapal dan tindakan para awak kapal.

Ever Given kini berlabuh di Danau Pahit Besar, titik tengah kanal tersebut, setelah berhasil diapungkan kembali pada Senin lalu.

Kapal sepanjang 400 meter dan seberat 200.000 ton itu tersangkut dalam posisi diagonal di Terusan Suez pada 23 Maret setelah kandas dalam keadaan angin kencang dan badai pasir yang berdampak pada jarak penglihatan.

Ia berhasil dibebaskan setelah operasi penyelamatan besar-besaran melibatkan armada kapal tunda dan alat keruk yang memindahkan sekitar 30.000 meter kubik lumpur dan pasir.

Lebih dari 140 kapal telah melewati kanal tersebut sejak tak lagi tersumbat, sementara otoritas kanal berusaha mengurai kemacetan sekitar 400 kapal di utara dan selatan kanal.

Sekitar 12% dari perdagangan global melewati kanal sepanjang 193km itu, yang menghubungkan Laut Mediteranea dengan Laut Merah dan menyediakan jalur laut terpendek antara Asia dan Eropa.

Sheaysha berkata kepada kantor berita Reuters pada hari Rabu bahwa kapten Ever Given serta warga Jepang pemilik kapal tersebut telah menyatakan kesiapan untuk berkooperasi sepenuhnya dengan penyelidikan.

Namun, sang penasihat SCA mengeluh dalam wawancara dengan media mesir ON TV pada Selasa kemarin bahwa kapal tersebut tidak merespons email permintaan untuk mengirimkan semua dokumen yang relevan.

Manajer teknis Ever Given, Bernhard Schulte, berkata pada hari Senin bahwa penyelidikan awal menunjukkan kapal melenceng dari jalurnya karena angin kencang. Mereka juga memastikan kegagalan mekanis atau mesin bukanlah penyebabnya.

Bagaimanapun, kepala SCA Osama Rabie percaya angin bukanlah penyebab utama kecelakaan, dan bahwa "kesalahan teknis atau manusia" bisa jadi penyebabnya.






Kapal kontainer melewati kota Ismailia, yang terletak di tepi barat kanal, Selasa kemarin.


SUMBER GAMBAR,REUTERS



Keterangan gambar,


Kapal kontainer melewati kota Ismailia, yang terletak di tepi barat kanal, Selasa kemarin.





"Terusan Suez tidak pernah ditutup karena cuaca buruk," kata Rabie kepada wartawan pada hari Senin.

Dia juga membantah ukuran kapal menjadi faktor, dan mengatakan "kapal-kapal yang lebih besar" telah menggunakan jalur air itu.

Hasil investigasi dapat memberikan dampak hukum yang besar, karena berbagai pihak berusaha menutup kerugian dari biaya perbaikan pada kapal Ever Given dan kanal, serta operasi penyelamatan dan penundaan kapal-kapal lain.

Pimpinan perusahaan asuransi Lloyd's of London berkata pada hari Rabu bahwa insiden ini akan mengakibatkan "kerugian besar".

Bruce Carnegie-Brown mengatakan kepada Reuters masih terlalu awal untuk memastikan besarannya, namun memperkirakan dapat mencapai $100 juta (Rp1,4 triliun) atau lebih.






Map showing Suez Canal and location of Ever Given in the Great Bitter Lake (30 March 2021)









Short presentational transparent line


Guy Platten, sekretaris jenderal Kamar Pengiriman Internasional, mengatakan kepada BBC bahwa industri akan perlu waktu untuk pulih setelah penyumbatan ini.

"Mereka berusaha mendorong kapal-kapal untuk segera melewati kanal, yang akan menyebabkan kemacetan di pelabuhan tujuan mereka. Jadi itu berarti ada penundaan di sana."

"Ini juga tentang penempatan aset di seluruh dunia. Kami tahu bahwa China, misalnya, kekurangan kotak kosong [kontainer] untuk diisi karena mereka juga tertunda."
"Semua ini akan mempengaruhi rantai pasokan," dia memperingatkan.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Mesir
 
  Mesir Temukan 'Kota Emas yang Hilang' Warisan Firaun 3.000 Tahun Lalu, Temuan Paling Penting setelah Makam Tutankhamun
  Terusan Suez Sudah Bisa Dilewati, Mesir Buka Penyelidikan terhadap Kapal Kontainer yang Kandas
  Muhammad Mursi Meninggal, Presiden Erdogan: Pemerintah Mesir Harus Diadili di Mahkamah Internasional
  Ustadz Hanan Attaki, Lc tentang Muhammad Mursi
  Total 44 Tewas, 2 Gereja Dibom, Mesir Tetapkan Keadaan Darurat
 
ads1

  Berita Utama
Irwan Fecho: Mereka Sadar Kekuasaan di Ujung Tanduk, Sehingga Demokrat Harus Jadi Kambing Hitam

Di HBA, Jaksa Agung Sampaikan 7 Perintah Harian Kepada Seluruh Jaksa

PKS: Meski Kasus Turun, Positivity Rate Indonesia Jauh Dari Standar WHO

Cara Mendapat Obat Gratis Khusus Pasien COVID-19 yang Isoman

 

ads2

  Berita Terkini
 
Anggota Majelis Tinggi Demokrat: Wamendes Jadi Buzzerp, Penyebar Fitnah Karena Prestasinya Buruk

Pemerintah Longgarkan Aturan PPKM, PKL dan Usaha Kecil Diizinkan Beroperasi dengan Prokes Ketat

Benny Rhamdani Protes Keras Soal Perlakuan Oknum Imigrasi Malaysia: Sita Barang Milik PMI Tapi Tak Dikembalikan

Penertiban Aset: Upaya Bersama Antara KPK, Pemerintah Daerah, juga Jurnalis

Irwan Fecho: Mereka Sadar Kekuasaan di Ujung Tanduk, Sehingga Demokrat Harus Jadi Kambing Hitam

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2