Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Greenpeace
Greenpeace Indonesia Ingatkan, Kekacauan Iklim Akibat Rusaknya Lingkungan
Wednesday 11 Dec 2013 22:37:23
 

Ilustrasi, aksi Greenpeace di salah satu pipa pembuangan Majalaya, Bandung, Jawa Barat.(Foto: Ist)
 
JAKARTA, Berita HUKUM – Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting menilai kebijakan pemerintah yang mengobral murah sumber daya alam Indonesia perlu mendapat perhatian serius, diantaranya sumber daya alam berupa mineral.

“Kebijakan pemerintah masih terus mengobral murah sumberdaya alam kita, termasuk sumber daya mineral. Secara khusus untuk sumber daya mineral, kita bisa lihat bagaimana sumber daya alam ini dikeruk dan diobral. Dampak negatif lingkungan dan sosial dinomorduakan apabila itu menjadi urusan sumberdaya mineral, karena ini dianggap "strategis". Dan secara khusus kami akan mengomentari soal batubara, karena kami bekerja secara langsung dengan isu ini, dan tidak bekerja langsung dalam isu sum berdaya alam yang lain,” kata Ginting kepada BeritaHUKUM.com, Rabu (11/12) di Jakarta.

Menurut Ginting, saat ini Indonesia adalah pengeskpor terbesar batu bara di dunia, mengalahkan Australia yang sebelumnya merupakan pengekespor terbesar. Padahal kandungan batubara kita hanyalah 3% dari cadangan dunia, artnya sangat sedikit. Dengan kecepatan ekspor saat ini (400 juta ton per tahun) bukan tidak mungkin batu bara Indonesia akan habis dalam waktu yang tidak lama lagi, seperti juga halnya minyak.

Lebih lanjut, Ginting mengingatkan bahwa pemerintah harus lebih serius lagi memperhatikan dampak kerusakan lingkungan yang mengakibatkan terjadinya kekacauan iklim.

“Devisa bagi negara dari sektor batu bara juga bukannya sangat besar, hanya sekitar 4%. Bila dibanding kerusakan lingkungannya (khususnya perubahan iklim) maka harga ini ditanggung oleh kekacauan iklim yang dialami oleh orang di seluruh dunia,” ujar Ginting.(bhc/mdb)





 
   Berita Terkait > Greenpeace
 
  KPK Adukan 'Laser Hijau' Greenpeace ke Polisi, ICW: Otoriter
  Bukan Hanya Jerat dan Peluru yang Membuat Harimau Punah
  Menyelamatkan Hutan Kita dengan Moratorium
  Terima Kasih Telah Turut Melindungi Bumi Kita
  Menjadi Pewarta Lingkungan Bersama Greenpeace
 
ads1

  Berita Utama
Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua

KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta

BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu

Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi

 

ads2

  Berita Terkini
 
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya

• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua

• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta

• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu

• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2