Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Virus Corona
Klaim Vaksin Johnson & Johnson Efektif Melawan Covid-19 Varian Delta
2021-07-06 10:46:32
 

Vaksin Johnson & Johnson diyakini mampu memberi perlindungan dari varian Delta
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Johnson & Johnson mengatakan bahwa dosis tunggal vaksin COVID-19 buatannya menunjukkan hasil yang efektif terhadap Delta dan varian lainnya.

Perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Johnson & Johnson, mengungkapkan bahwa vaksin buatannya 85% efektif menunjukkan respons kekebalan yang bertahan lama dan mampu mencegah penderita COVID-19 dari perawatan di rumah sakit.

"Selama delapan bulan, dosis tunggal vaksin Johnson & Johnson menghasilkan respons antibodi yang kuat. Kami mengamati peningkatan dari waktu ke waktu," ucap Mathai Mammen, Kepala Penelitian dan Pengembangan J&J.

Perusahaan mengklaim vaksin COVID-19 Johnson & Johnson menimbulkan antibodi terhadap varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India. J&J telah mengirimkan data sebagai pracetak ke situs web bioRxiv sebelum peer review.

Jerman rekomendasikan campuran vaksin
Komite Vaksin Jerman (STIKO) pada Kamis (01/07) merekomendasikan agar setiap orang yang menerima dosis pertama AstraZeneca beralih ke BioNTech-Pfizer atau Moderna untuk dosis kedua. Anjuran itu dinilai sebagai upaya perlindungan yang lebih baik terhadap virus corona, termasuk varian Delta.

Studi menunjukkan bahwa respons kekebalan "jelas lebih unggul" ketika dosis AstraZeneca dikombinasikan dengan vaksin mRNA kedua, dibandingkan dengan suntikan AstraZeneca ganda, kata STIKO.

Oleh karena itu, komisi merekomendasikan campuran "tanpa memandang usia" dan dengan jarak minimal empat minggu antara dua suntikan.

Vaksin yang dikembangkan oleh BioNTech-Pfizer dan Moderna didasarkan pada teknologi RNA baru yang sama, yang melatih tubuh mereproduksi protein serupa dengan yang ditemukan pada virus corona. Sementara vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson menggunakan versi rekayasa genetika dari adenovirus penyebab flu biasa sebagai "vektor" untuk mengirim instruksi genetik ke dalam sel manusia.

(ha/vlz (Reuters, AFP)dwcom/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Virus Corona
 
  Pemerintah Perlu Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan Rakyat terkait Kedatangan Turis China
  Pemerintah Cabut Kebijakan PPKM di Penghujung Tahun 2022
  Indonesia Tidak Terapkan Syarat Khusus terhadap Pelancong dari China
  Temuan BPK Soal Kejanggalan Proses Vaksinasi Jangan Dianggap Angin Lalu
  Pemerintah Umumkan Kebijakan Bebas Masker di Ruang atau Area Publik Ini
 
ads1

  Berita Utama
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

 

ads2

  Berita Terkini
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2