Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
White Crime    
KPK
Komite Etik Beri Rekomendasi Perbaiki KPK
Wednesday 05 Oct 2011 23:33:47
 

Para anggota Komite Etik KPK (Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyampaikan hasil pemeriksaannya. Dari delapan pimpinan dan pejabat institusi pembernatasan hukum tersebut, empat di antaranya "divonis" melanggaran pelanggaran kode etik ringan. Temuan ini pun takkan berlanjut ke ranah pidana.

Namun, dengan hasil pemeriksaan ini, Komite Etik memberikan sejumlah rekomendasi, bagi sebagai masukan serta perbaikan internal dan eksternal KPK. Rekomendasi internal itu, di antaranya KPK harus memisahkan pengodifikasian antara norma etik dan norma perilaku bagi pegawai dan pimpinannya. Alasannya, KPK selama ini menyatukan dua aturan tersebut dalam satu wadah yang bernama kode etik pimpinan dan pegawai KPK.

"Komite etik merekomendasikanm, agar kode etik yang umum dan tidak bersanksi dipisahkan dari kode perilaku yang lebih rinci dan pelanggarannya dikenakan hukuman serta sanksi," kata anggota Komite Etik KPK Nono Makarim dalam jumpa pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (5/10).

Dua norma itu, jelas dia, sangat jelas berbeda. Norma etik itu, bersifat larangan dan suruhan yang umum dan luas. Sedangkan norma perilaku berisi aturan-aturan tentang bagaimana seorang pimpinan dan pegawai harus berkelakuan dalam beraneka ragam situasi. Selain itu, tak seperti norma etik, norma perilaku, lazimnya selalu memuat sanksi bagi mereka yang melanggar.

Tertib Administrasi
Rekomendasi lainnya, Komite meminta agar administrasi KPK lebih ditertibkan. Sebab, ditemukan administrasi persuratan di KPK tidak cukup rapi. Ada beberapa surat yang dilaporkan seseorang, namun saat ditanya suratnya hilang. Direkomendasikan pula, agar ada UU untuk melindungi KPK dari berbagai serangan untuk menghancurkan institusi pemberantasan korupsi itu.

KPK, jelas dia, juga harus membentuk satu tim yang bertugas merespons setiap informasi dan opini yang muncul di masyarakat. Selain itu, KPK disarankan secara intens menggelar pertemuan dan diskusi secara berkala dengan lembaga pegiat antikorupsi dan tokoh masyarakat. Tujuannya, untuk memperkuat KPK yang lebih kuat dari sekarang ini.

Komite Etik memberikan rekomendasi bagi KPK untuk eksternal. Menurut Nono Makarim, pemerintah diharapkan membantu memperingan tugas KPK dengan secara serius menangani mental dan integritas anggota masyarakat, melalui pendidikan yang secara utuh melahirkan anak didik yang berilmu pengetahuan, berketrampilan dan berakhlak mulia.

Langkah ini lebih penting, karena bagian upaya meredam terjadinya niat untuk berkorupsi. Presiden juga harus bersikap tegas dalam mengendalikan proses reformasi birokrasi di seluruh instansi pemerintah dan lembaga negara.

Rekomendasi ketiga, Komite Etik berharap KPK dan Pemerintah dapat serius mendandani sistem perpolitikan nasional melalui UU Parpol, Pemilu, Pilpres dan Pemilukada. Terakhir, Komite mengajak masyarakat bersama-sama memberangus korupsi.

Sementara itu, anggota Komite Etik Marjono menyarankan, agar lembaga pemberantas korupsi itu membentuk dan memiliki Dewan Kode Etik. "Alangkah baiknya kpk itu punya suatu dewan, yang orangnya anggotanya ahli dibidang etik, ahli dibidang code of conduct," ujarnya.

Dewan itu nantinya tempat bertanya kalau ada kasus-kasus, situasi-situasi tertentu yang tidak jelas, khususnya sesuatu yang dianggap masuk dalam kategoro pelanggaran code of conduct apa tidak. Nantinya, Dewan ini diharapkan tak hanya jadi tempat bertanya, melainkan menjadi suatu buku pedoman penjelasan tambahan atas kasus-kasus konkret di bidang perilaku di bidang moral. “Penyusunannya harus rapih,” tandasnya.(tnc/spr)



 
   Berita Terkait > KPK
 
  Pecah Rekor 3 kali OTT KPK dalam Sehari, Siapa Saja Pejabat yang Terseret?
  KPK Bakal Terbitkan Sprindik Baru untuk Saksi Ahli Prabowo-Gibran di MK,Ali: Sudah Gelar Perkara
  Firli Bahuri Mundur sebagai Ketua dan Pamit dari KPK
  Polda Metro Tetapkan Komjen Firli Bahuri sebagai Tersangka Kasus Peras SYL
  Ungkap Serangan Balik Koruptor, Firli: Kehadiran Saya ke Bareskrim Bentuk Esprit de Corps Perangi Korupsi Bersama Polri
 
ads1

  Berita Utama
Kapolda DIY Copot Kapolresta dan Kasatlantas Polresta Sleman Buntut Kasus Hogi

Kapolri Sebut Potensi Muncul 'Matahari Kembar' Jika Polri Tidak Dibawah Langsung Presiden

Sorot Penetapan Tersangka Hogi, Komisi III DPR Panggil Kapolresta dan Kajari Sleman

Bupati Pati Sudewo Jadi Tersangka Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan dan Suap di DJKA Kemenhub

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kapolda DIY Copot Kapolresta dan Kasatlantas Polresta Sleman Buntut Kasus Hogi

Kapolri Sebut Potensi Muncul 'Matahari Kembar' Jika Polri Tidak Dibawah Langsung Presiden

Sorot Penetapan Tersangka Hogi, Komisi III DPR Panggil Kapolresta dan Kajari Sleman

Mintarsih Ungkap Hak di Balik 'Penggorengan Saham' Sorotan Menkeu Purbaya

Bupati Pati Sudewo Jadi Tersangka Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan dan Suap di DJKA Kemenhub

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2