Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    

Korek Kuping Raksasa Untuk DPR dan Presiden
Monday 09 Jan 2012 20:17:19
 

Aksi unjuk rasa korek kuping raksasa di depan gedung DPR (Foto: Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Sejumlah tokoh mengkritik pemimpin negara yang dianggap tidak mau lagi mendengarkan keluhan rakyatnya. Sebagai simbul pemimpin yang dianggap tuli tersebut, mereka menyerahkan korek kuping raksasa kepada perwakilan anggota DPR di depan gerbang gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/1).

Aksi para tokoh tersebut, yakni aktor senior Pong Harjatmo, Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, Permadi serta sejumlah tokoh lainnya itu, digelar bersama dengan warga Pulau Padang, Riau yang telah berada di sana hampir satu bulan. Para warga ini sudah menginap lama dan menuntut ketegasan pemerintah atas masalah yang belum juga tuntas hingga kini.

Korek kuping raksasa tersebut berukuran kurang lebih dua meter yang terbuat dari bahan kayu bambu serta paralon dan di ujungnya ditempelkan kapas besar. Para pengritik ini, bukan hanya membawa satu buah korek kuping raksasa, melainkan lima korek kuping raksasa.

"Biar pemerintah mendengarkan keluhan rakyat, seperti kasus sengketa lahan, tambang di beberapa daerah. Belum lagi peristiwa sandal jepit, sudah setahun baru diproses," kata Pong Hardjatmo.

Menurut dia, semua permasalahan yang terjadi saat ini sebagai bentuk ketidaksiapan Presiden SBY untuk berkoordinasi dengan para menterinya. "Yang memimpin negeri ini kan SBY, sebenarnya dia tinggal tunjuk saja, menteri kehutanan begini, Kapolri begini. Tapi kenapa hanya bersikap diam saja hingga kini,” tanfasnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR asal FPDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan, aksi tersebut merupakan akumulasi aspirasi rakyat yang tidak kunjung mendapat solusi. Selain itu, juga sebagai simbolisasi yang tepat sasaran, karena DPR merupakan wakil rakyat dan presiden juga dipilih rakyat.

"Ini kan akumulasi dari kefrustasian rakyat karena upaya sudah dilakukan, tapi tidak juga ada perubahan signifikan. Tapi aksi ini tepat sasaran, karena kami adalah perwakilan rakyat. Presiden juga harus ikut memperhatikan aspirasi rakyat ini,” tandasnya.

Dalam aksi ini, Pong sempat mempertunjukkan aksi korek kuping dengan ekspresi kegelian. Pong melibatkan 10 orang yang beraksi seolah-olah mereka mengorek kuping sendiri. Aksi yang berlangsung selama kurang lebih setengah jam tersebut tidak menimbulkan kemacetan. Beberapa polisi pun hanya memantau aksi tersebut dari jarak jauh.(dbs/rob)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2