Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    

PKS Tetap Berada Dalam Koalisi
Wednesday 19 Oct 2011 20:45:53
 

Anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring (Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjanji untuk tetap berada dalam koalisi. Keputusan itu telah diambil dalam rapat terbatas pimpinan partai tersebut yang berlangsung di di kediaman Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin di Lembang, Jawa Barat, Selasa (18/10) malam.

Sikap tersebut disampaikan anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10). Menurut dia, keputusan ini sekaligus sikap Majelis Syuro PKS yang menghormati keputusan Presiden SBY dalam melaksanakan reshuffle tersebut.

"Perintah dari semalam keputusan Presiden. Kedua, arahan dari ustadz Hilmi bekerja optimal seperti biasa. Semua ini menandakan bahwa PKS tetap di dalam koalisi. keputusan Presiden untuk melakukan reshuffle cabinet dengan mengurangi jatah satu menteri PKS merupakan hak Presiden,” jelas Menkominfo tersebut .

Dalam kesempatan tersebut, Tifatul membantah bahwa PKS pernah mengancam untuk mundur dari parpol koalisi, jika salah satu menterinya dicopot dari kabinet. Menurutnya, respons Majelis Syuro PKS sudah cukup jelas. “Sekarang tidak ada masalah lagi,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II, PKS memiliki empat jatah menteri. Masih-masing kadernya menduduki posisi sebagai Menkominfo, Mentan, Mensos dan Menristek. Namun, dalam perombakan kabinet yang diumumkan Presiden SBY kemarin, kursi Menristek dikurangi dan sekarang PKS hanya mengisi tiga kursi menteri.

Sementara itu, Ketua Forum Kesatuan dan Persatuan Bangsa (FKPB) Ery Ratmadi mengatakan, dengan berkurangnya satu kursi menteri yang dimiliki Partai Demokrat dan PKS, seharusnya dapat dijadikan dasar dalam instrokpeksi diri ke dalam. Mereka harus sadar bahwa kinerja menterinya itu tidak maksimal dan harus dicopot.

“Artinya, untuk ke depan, PKS harus sepenuh hati dalam mengawal kinerja pemerintahan. Jangan lagi membuat gaduh suasana politik. Jika memang mau berkoalisi dengan baik, hendaknya PKS mendukung program di pemerintahan. Begitu pula di DPR," tandas Ery.(mic/wmr/rob)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2