BISHKEK (BeritaHUKUM.com) – Sekitar 1.300 tahanan di berbagai penjara Kirgistan menjahit mulut. Mereka melakukan aksi itu sebagai bentuk protes atas kondisi penjara yang buruk. Sedangkan hampir 6.000 lainnya melanjutkan aksi mogok makan yang dimulai sejak sepekan lalu.
Berdasarkan laporan BBC, sejumlah tahanan memilih untuk menjahit mulutnya setelah mereka dipaksa untuk makan oleh sipir penjara. Sedangkan pemerintah menyatakan penyebab utamanya adalah keterbatasan dana dan kelompok-kelompok penjahat yang membuat onar di dalam penjara, karena menentang pengaturan yang lebih ketat di dalam penjara.
Namun pejabat hak asasi manusia Kirgistan, Tursunbek Akun, yang bertemu dengan sejumlah pengunjuk rasa pada Rabu (25/1), menyatakan bahwa salah satu tuntutan para tahanan adalah penyiksaan oleh sipir penjara dihentikan. Para tahanan, juga menuntut perbaikan kondisi tahanan
"Situasi seperti bencana, beberapa di antara mereka tergeletak dan sebagian tidak bisa berbicara. Mereka menuntut agar penjaga berhenti memukuli mereka. Mereka ingin jaminan agar insiden 16 Januari tidak terulang lagi. Mereka khawatir jika menghentikan mogok makan maka mereka akan dipukuli lagi," tuturnya.
Aksi mogok makan dan unjuk rasa dalam bentuk lain sering terjadi di penjara-penjara Kirgistan untuk menuntut perbaikan kondisi kehidupan di sana. Pada akhir 2011 lalu saja, seorang pelapor khusus PBB yang berkunjung ke Kirgistan menyatakan kondisi di beberapa penjara amat menakutkan dan perlakuan buruk maupun penyiksaan terhadap tahanan terjadi secara meluas.(sya)
|