JAKARTA, Berita HUKUM - Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan 3.736,5 gram sabu hasil dari pengungkapan dua kasus tindak pidana narkotika. Dari kedua kasus tersebut, petugas mengamankan seorang wanita berkewarganegaraan Austria berinisial SM (Susanne Mayr) dan seorang pria berinisial TS (Tony Setiawan), mantan pedagang roti yang beralih profesi menjadi bandar Narkoba. Total barang bukti yang berhasil diamankan petugas dari kedua kasus tersebut adalah 3.749 gram sabu dan pada hari ini, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, BNN melakukan pemusnahan terhadap barang bukti tersebut.
Bekerjasama dengan KPPBC Bea dan Cukai, BNN berhasil mengamankan seorang wanita berkewarganegaraan Austria karena kedapatan membawa 3.276 gram sabu melalui Bandara Internasional Soekarno - Hatta, Tangerang, Sabtu (9/11) lalu. Wanita berinisial SM (Susanne Mayr) tersebut tertangkap tangan membawa sabu yang disembunyikan di balik dinding koper yang bawanya dari Dakar, Senegal menuju Jakarta dengan rute penerbangan Dakar – Cassablanca – Abu Dhabbi – Jakarta.
Setibanya di Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Banten, petugas yang mencurigai koper milik tersangka kemudian melakukan pemeriksaan dan berhasil menemukan 5 (lima) bungkus plastik warna cokelat berisi narkotika. Dua diantaranya ditemukan pada bagian dinding atas koper dan 3 lainnya berada pada dinding bawah koper dengan berat total mencapai 3.276 gram. Dari hasil interograsi terhadap SM, petugas BNN kemudian melakukan controlled delivery ke sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat dan berhasil mengamankan seorang pria berinisial I (Iksan bin Naim) yang hendak mengambil koper berisi sabu tersebut.
Kasus lainnya yang berhasil diungkap oleh BNN adalah tertangkapnya seorang pria berinisial TS (Tony Setiawan ) disalah satu hotel di kawasan Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (15/11) lalu. Dari tangan TS, petugas berhasil mengamankan 473 gram sabu yang rencananya akan diedarkan di Semarang dan sekitarnya. TS nekat menjadi bandar Narkoba sejak beberapa tahun yang lalu setelah usaha roti yang dikelolanya bangkrut akibat kecanduan sabu. Selain TS, petugas juga mengamankan dua tersangka lainnya berinisial IK als GD (Iwan Kristanto als Gendut), dan CS als HD (Candra Setyadi als Hendrik) yang turut terlibat dalam jaringan tersebut.
Total keseluruhan barang bukti yang berhasil diamankan BNN dari kedua kasus tersebut adalah sebanyak 3.749 gram sabu. Sesuai dengan Pasal 75 huruf K, Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang menerangkan bahwa barang bukti tindak pidana Narkotika harus dimusnahkan maksimal 7 (tujuh) hari setelah mendapatkan ketetapan pemusnahan barang bukti dari Kejaksaan Negeri setempat, BNN melakukan pemusnahan terhadap barang bukti tersebut. Sebelumnya, petugas menyisihkan 12,5 gram sabu guna kepentingan uji laboratorium dan pembuktian perkara, sehingga barang bukti sabu yang dimusnahkan pada adalah sebanyak 3.736,5 gram.
Pemusnahan barang bukti pada hari ini disaksikan oleh para pejabat BNN, Kejaksaan Agung, Bea dan Cukai, Badan POM, Kementerian Kesehatan, Tokoh Agama, Tokoh masyarakat, dan sejumlah pejabat dari instansi terkait lainnya. Atas perbuatannya seluruh tersangka terancam Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1), subsider Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1), lebih subsider Pasal 137 huruf (a) dan (b), Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
KRONOLOGIS LENGKAP
I. LAPORAN KASUS NARKOTIKA NOMOR : LKN/148-INTD/XI/2013/BNN
Pada tanggal 9 November 2013, BNN bekerjasama dengan Bea dan Cukai Soekarno – Hatta mengamankan seorang wanita berinisial SM yang merupakan Warga Negara Austria. Ia tertangkap tangan membawa 3.276 gram sabu yang disembunyikan di balik dinding koper yang ia bawa dari Dakar, Senegal.
SM terbang dari Dakar menuju Cassablanca kemudian menuju Abu Dhabi untuk selanjutnya menju Jakarta.
Setibanya di Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Banten, petugas yang mencurigai koper milik tersangka kemudian melakukan pemeriksaan dan berhasil menemukan 5 (lima) bungkus plastik warna cokelat dengan perincian pada dinding atas terdapat 2 (dua) bungkus plastik dan dinding bawah berisi 3 (tiga) bungkus plastik berisi sabu dengan berat total mencapai 3.276 gram.
Dari hasil interograsi terhadap SM, petugas BNN kemudian melakukan controlled delivery ke sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat dan berhasil mengamankan seorang pria berinisial I yang hendak mengambil koper berisi sabu tersebut.
Selanjutnya petugas BNN membawa kedua tersangka ke BNN guna pemeriksaan lebih lanjut.
II. LAPORAN KASUS NARKOTIKA NOMOR : LKN/149-INTD/X/2013/BNN
TS (47) diamankan bersama dua rekannya, karena kedapatan berbisnis Narkoba. TS ditangkap di Hotel Holiday Inn, Semarang, pada 14 November 2013 dini hari. Saat penangkapan, TS menerima sabu seberat 500 gram dari kurirnya bernama CS als HD yang baru datang mengambil barang dari Jakarta. Petugas BNN menggelandang TS, CS als HD dan seorang teman TS bernama IK als GD untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Dalam menjalankan bisnis Narkoba, pada awal ia memesan barang dan menjual barang tanpa dibantu siapapun. Namun, dalam tiga bulan terakhir ini ia mempekerjakan CS als HD. Kepada petugas, CS als HD mengaku nekad menjadi kurir Narkoba karena ia sudah diberikan pinjaman uang sebesar Rp 10 juta dari TS. Karena itulah, CS als HD terpaksa menjadi kurir Narkoba meski pekerjaan yang ia lakukan ini melanggar hukum.
TS mengaku sudah seringkali mengedarkan barang haram jenis sabu di Semarang dan sekitarnya. Menurut pengakuannya, ia sudah empat tahun menjalankan bisnis Narkoba-nya. Namun pada tiga tahun pertama, sabu yang ia jual hanya kecil-kecilan (hanya beberapa gram). Baru dalam tahun ini, ia sudah empat kali melakukan transaksi Narkoba dalam jumlah yang lebih besar. Transaksi pertama yang ia jual seberat 500 gram, kedua 300 gram, 500 gram, dan terakhir 500 gram.
TS mengaku menjadi bandar berawal dari kecanduan sabu. Empat tahun lalu ia mencoba-coba sabu, dan akhirnya mengaku ketagihan hingga akhirnya nekad untuk berbisnis Narkoba, dan keuntungan yang ia peroleh untuk membeli sabu. Akhirnya, keluarga TS berantakan, dan bisnis rotinya yang ia bangun pun terpuruk. Setelah bisnis roti hancur, ia mencoba judi bola, tapi tidak bertahan lama. Akhirnya TS terjun ke bisnis Narkoba. Selama menjalankan bisnis Narkoba, proses transaksi selalu berjalan mulus, karena TS selalu diberikan pelatihan khusus dari bandar besar untuk mengelabui petugas.
Menurut bandar kecil asli Semarang ini, dirinya mengedarkan barang di Semarang namun ia tidak pernah tinggal di kota tersebut. Sudah beberapa waktu ini, TS tinggal di kota Solo. Kepada masyarakat sekitar, ia selalu mengaku sebagai penjual roti.(bhc/rat)
|