Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Islam
Agenda Bersama Media Berita Islam
Wednesday 05 Mar 2014 07:32:05
 

Ali Farkhan Tsani.(Foto: Istimewa)
 
Oleh : Ali Farkhan Tsani

SEJUMLAH MEDIA Lebih suka menyoroti sisi-sisi negatif umat Islam ketimbang sisi positifnya, sehingga berita yang tersaji pun menjadi tidak berimbang. Pemberitaan yang tidak berimbang itu ikut berperan membangun citra negatif terhadap agama Islam itu sendiri. Sehingga banyak kalangan Islam kecewa dengan kurangnya pemihakan media massa mainstream nasional terhadap umat Islam.

Pada satu sisi, opini subyektif kalangan Islam tersebut tentu saja belum tentu benar. Pada sisi lainnya, media massa mainstream pun sudah tentu menolak tudingan seperti itu. Media tentu berargumen bahwa sebagai tugas pemberitaan tugas mereka hanyalah mengungkapkan fakta belaka. Tak ada maksud di balik itu untuk menyudutkan umat Islam dan Islam itu sendiri.

Belum lagi, dengan makin kerasnya persaingan di dunia media, tentu mereka harus mengemas berita agar punya efek jual yang tinggi, dalam bentuk banyaknya pembaca, pendengar maupun pemirsa. Ini terkait erat dengan sisi komersial iklan, yang menjadi sumber pemasukan utama media. Maka, jarak yang tercipta di antara kalangan Islam dan media massa ini tentu tidak menguntungkan. Maka, diperlukan upaya untuk menjembatani masalah tersebut.

Kekuatan Media Islam

Dalam menghadapi tantangan global era informasi, media berita Islam harus menjadi kekuatan membentuk opini publik, kata Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam Diskusi Terbuka "Islam dan Media Berita" di Jakarta, Selasa (18/2). Menurutnya, Islam merupakan agama yang membawa nilai-nilai rahmatan lil alamin. Namun, adanya tantangan kolosal global, memerlukan kombinasi pengetahuan, teknologi dan kreativitas.

“Sekarang media Islam memang sedang bertanding dalam membentuk opini Islam. Diperlukan upaya kreatif menunjukkan kehebatan Islam,” ujar Anies Baswedan.

Ia mengatakan, sebenarnya sekaranglah saatnya media Islam berkesempatan aktif menunjukkan kehebatannya, sehingga mampu memberikan persepsi yang baik bagi masyarakat.

“Tampilkan berita-berita Islam tanpa ragu-ragu, tidak perlu khawatir disebut pamer, tak patut atau dianggap tak etis,” ujar Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar tersebut. Anies Baswedan menyebutkan, bagi masyarakat merdeka, pilarnya adalah kepercayaan. Media Islam harus menjadi instrumen memperkuat kepercayaan itu.

“Bukan justru menggerus kepercayaan,” ujar peraih penghargaan The Royal Islamic Strategic Studies Center, Jordania tersebut.

Ini karena menurutnya, masyarakat saat ini merupakan pengguna informasi yang kritis. Sehingga publik akan memilih dan memilah informasi mana yang dipercaya dan mana yang tidak.

Media Rujukan

Jika ditelusuri hal itu, pada era informasi global saat ini, justru sebenarnya kehadiran media massa Islam sangat diperlukan sebagai rujukan bagi umat. Karena itu, menurut Nur Fitri Taher, Pengurus Radio Silaturahim (Rasil), menjadi tugas mulia media dan wartawan muslim menyampaikan berita yang sahih.

“Seperti dalam periwayatan hadits sahih, perlu verifikasi dan penelusuran akhlak penyampai hadits,” kata Fitri, yang juga relawan Mavi Marmara Menembus Gaza itu. Ia menyebutkan, ajaran Islam mengajarkan prinsip tabayyun atau pengecekan berita, agar tidak terjebak ke dalam berita fasik.

Substansi berita, juga tidak melakukan kalimat-kalimat hujatan, laknat dan menghakimi, yang memang tidak sesuai dengan Islam.

“Islam mengajarkan rahmatan lil alamin, mendamaikan, dan mengajak dengan kalimat hikmah dan bijaksana,” ujar relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) itu. Jika media Islam dapat melakukan pemberitaan secara akurat, menyampaikan fakta dan data, dengan niat untuk kemuliaan Islam, dan untuk tugas amar makruf nahi mungkar, insya Allah akan menjadi media rujukan umat, tambahnya.

Sementara itu Budi Winarno, Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional mengatakan, memang tidak secara khusus media massa umum menampilkan syiar Islam.

“Tapi ada nilai Islam sebagai samangat yang sejuk dan damai, bahwa berita harus dikonfirmasi, diverifikasi serta hati-hati terhadap berita fitnah,” ujarnya.

Menurutnya, umat Islam tidak perlu berkecil hati, selama masih ada semangat Islam dan tidak ada adu domba antar sesama muslim.

Adu Program

Disinggung mengenai mengapa masih sedikit berita khas Islam seperti pandangan ulama, malah yang banyak menarik adalah berita politik dan infotainmen. Menurut Mauludin Anwar, Senior Manager Liputan 6 SCTV, permasalahannya bukan masalah khas atau tidak khas Islami. Tetapi lebih pada fungsi media dan kualitas berita itu sendiri. Fungsi media salah satunya adalah alat kontrol sosial. Jika kemudian ada pejabat atau tokoh yang melakukan pelanggaran di masyarakat atau dalam tugasnya, kemudian diberitakan. Itu adalah bagian dari kontrol sosial media untuk mengingatkan publik.

“Jika ada sesuatu yang semestinya tidak dilakukan, atau yang semestinya menjalankan fungsi-fungsinya, lalu tidak sesuai, tugas media adalah mengingatkn mereka, bukan untuk menjatuhkan,” ujar Mauludin.

Juga ada program yang secara eksplisit memang tidak menyebutkan istilah Islam. Akan tetapi mengandung nilai-nilai spirit Islam. Umpamanya program yang mengungkap sosok orang-orang terpinggirkan yang tetap berjuang dalam hidupnya, acara talk show yang memberikan semangat kebangkitan di tengah ketidakhadiran pemerintah daerah setempat, dan sebagainya.

Jadi, laku tidaknya acara, bisa masuk atau tidaknya suatu berita, sangat tergantung pada bagaimana kebijakan newsroom media, pemahaman penonton dan integritas jurnalis itu sendiri.

Ribuan berita tiap hari masuk ke redaksi, tetapi durasi berita yang tersedia dalam sehari hanya sekitar tiga jam. Maka praktis harus ada yang dipilih dan dipilah.

Di sinilah diperlukan cara bagaimana sosok ulama atau yang bernilai Islam dikemas agar bernilai berita, menarik dan diperlukan. Karena itu, perbuatan yang menarik, prestatif dan luar biasa tentu akan menjadi berita media.

“Kalau biasa-biasa saja, tidak akan masuk berita,” ujar Mauludin.

Masalahnya adalah seperti dikemukakan Akhmad Kusaeni, Direktur Pemberitaan Perum
Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, tidak semua fakta harus disiarkan. Apalagi jika dipandang bakal membuat kerusuhan lebih besar.

“Fungsi media dalam hal ini adalah sebagai pemadam kebakaran, bukan bensin yang semakin membakar. Media harus menjadi air yang mendinginkan. Ini juga bentuk jihad ibadah melalui media,” ujar Kusaeni.

Media berita khususnya yang bernuansa Islami harus menjadi bagian dari solusi bukan bagian dari masalah.

Agenda Bersama

Diperlukan agenda bersama media berita dalam menyampakan dakwah Islam menyampaikan kebenaran. Tidak harus secara simbolik, namun lebih pada pengamalan. Seperti pejabat yang menerapkan kerja keras, jujur dan merakyat. Walaupun secara fisik mungkin tidak memakai peci, misalnya.

Permasalahannya sekarang adalah boleh dikatakan tidak ada atau belum ada media Islam yang kuat dalam kompetisi media secara global. Sehingga banyak aspirasi umat yang tidak tertampung. Dahulu ada media Islam yang kuat dan cukup lama esksis, seperti Panjimas, Al-Muslimun, dan lainnya. Akan tetapi mengapa kemudian tidak tumbuh menjadi besar?

Ini harus menjadi catatan introspeksi bagi pegiat media islam itu sendiri. Beberapa titik kelemahan media berita Islam, seperti disimpulkan Arifin Asydhad, Pemimpin Redaksi Detik.Com, antara lain karena masih terkotak-kotaknya perjuangan kaum muslimin.

“Masih lebih menonjolkan pebedaan-perbedaan masing-masing,” katanya.

Maka, diperlukan agenda bersama antarmedia berita Islam, sehingga dapat menjadi teladan kebaikan dan manfaat sebanyak mungkin bagi publik.

Faktor yanga melemahkan lainnya, menurut Asydhad adalah sebagian oknum orang Islam yang justru memberikan contoh tidak baik.

“Umat Islam juga lebih saling menyalahkan, tidak memberikan solusi program-program yang cocok dan dibutuhkan masyarakat. Belum lagi masih tertingalnya pemanfaatan Teknologi Informasi," tambah Arifin.

Penutup

Menarik apa yang ditawarkan Nasihin Masha, Pemimpin Redaksi Harian Republika, salah satu penawaran program adalah bagaimana agar ulama atau stafnya aktif menciptakan berita, membuat even, dan menyusun release yang mempunyai nilai berita.

“Yang diperlukan adalah bagaimana menciptakan bunga dan madu yang menarik sehingga lebah mau datang,” kata Nasihin. Maka, diperlukan adanya orang-orang atau tim kreatif yang secara khusus bekerja untuk sampai ke sana. Sehingga banyak aspirasi umat yang dapat terwakili dalam pemberitaan.

Menurutnya, begitu banyak realita kehidupan, akan tetapi itu belumlah cukup untuk menjadi realitas media. Sebab, realitas media berbeda dengan realitas masyarakat.

Berarti memang kalangan aktivis Islam harus menghadapi kenyataan kompetisi terbuka secara profesional. Siapa yang profesional dialah yang mampu bertahan. Termasuk profesional dalam menyiasati media dan harus mengetahui apa keinginan media.

*) Penulis adalah aktif sebagai penggiat media Islam,Aktif di Kantro Berita MINA



 
   Berita Terkait > Islam
 
  Sejarah Kuil Rama di Ayodhya Dibangun Setelah Umat Hindu Merobohkan Masjid Berusia 500 Tahun
  Forum Umat Islam Bersatu Laporkan Zulkifli Hasan ke Bareskrim Polri
  Pembakaran Al Quran di Swedia, Legislator Ingatkan: Ini Bisa Melukai Hati Umat Islam Sedunia
  LDII Sebut Muhammadiyah Kakak Tertua
  Haedar : Amaliyah Islam Membawa Kemajuan dan Melahirkan Madinah Al Munawaroh
 
ads1

  Berita Utama
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat

Tolak Tawaran Jadi Duta Polri, Band Sukatani Akui Lagu "Bayar Bayar Bayar" Diintimidasi

Istana Dukung Kejagung Bersih-bersih di Pertamina: Akan Ada Kekagetan

Megawati Soekarnoputri: Kepala Daerah dari PDI Perjuangan Tunda Dulu Retreat di Magelang

 

ads2

  Berita Terkini
 
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat

BNNP Kaltim Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu di Samarinda dan Balikpapan

Kasus Korupsi PT BKS, Kejati Kaltim Sita Rp2,5 Milyar dari Tersangka SR

Tolak Tawaran Jadi Duta Polri, Band Sukatani Akui Lagu "Bayar Bayar Bayar" Diintimidasi

10 Ribu Buruh Sritex Kena PHK, Mintarsih Ungkap Mental Masyarakat Terguncang

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2