Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Cina
Cina Akui tak Siap Hadapi Rusuh Akibat Perekonomian
Monday 05 Dec 2011 22:44:17
 

Perkembangan ekonomi melesat cepat dalam beberapa tahun belakangan ini (Foto: Strategydesk.com)
 
BEIJING (BeritaHUKUM.com) – Kepala Keamanan Nasional Cina memperingatkan negaranya tidak siap untuk menghadapi kemungkinan kerusuhan ditengah melemahnya perekonomian.

Pejabat partai komunis Cina yang bertanggung jawab atas hukum dan ketertiban, Zhou Youngkan, mengatakan pemerintah perlu metode yang lebih baik untuk mengatasi gejolak sosial yang terjadi akibat dampak melambatnya ekonomi.

Para pemimpin Cina khawatir melemahnya perekonomian global akan mempengaruhi Cina. Pasalnya, industri manufaktur negara itu mulai terguncang karena turunnya permintaan barang-barang Cina di Eropa dan Amerika Serikat.

Para pengamat mengatakan bahwa para pekerja pabrik di Cina -yang umumnya pekerja migran- merupakan kelompok pertama yang menderita dampaknya dari melemahnya perekonomian. Dan dalam beberapa waktu belakangan, unjuk rasa maupun kerusuhan di kalangan buruh meningkat dalam di Cina.

"Masalah ini merupakan tugas mendesak bagi kami, untuk memikirkan bagaimana sistem manajemen sosial yang sesuai dengan pasar sosialis kami. Khususnya dalam menghadapi dampak negatif perekonomian," kata Zhou.

Ia menyerukan pemerintah untuk melakukan sejumlah tindakan termasuk jaminan pengangguran. Pernyataan Zhou ini, seperti dikutip BBC, Senin (5/12), menunjukkan kekhawatiran para pemimpin Cina terkait gangguan industri Cina dan gejolak sosial.

Sejumlah indikasi gangguan terhadap perekonomian Cina sudah terasa, termasuk anjloknya industri manufaktur dan imbasnya adalah pemerintah kemungkinan akan menghadapi kerusuhan sosial lebih lanjut.

Perekonomian Cina tumbuh sekitar 9,1% antara Juni dan September, yang merupakan peningkatan terkecil dalam dua tahun terakhir.

Pekan lalu, karyawan perusahaan elektronik Singapura Hi-P International di Shanghai melakukan pemogokan minggu lalu sebagai protes atas PHK besar-besaran.

Ribuan karyawan di Shenzhen dan Dongguan, dua pusat ekspor Cina, juga mogok bulan lalu untuk memprotes pemotongan waktu lembur.(bbc/sya)



 
   Berita Terkait > Cina
 
  Wakil Ketua MPR, Syarief Hasan: Perlu Antisipasi dan Mitigasi Lonjakan Wisatawan Cina
  Ketika Negara-negara Eropa Menghadapi Jebakan Utang' China
  Pertumbuhan Ekonomi Cina Melambat Akibat Pandemi Corona Hingga Utang
  Topan In-fa Melintasi Cina Puluhan Orang Tewas, Shanghai Dilanda Banjir Besar
  Tren 'Kaum Rebahan' Melanda Anak-anak Muda China yang Merasa Lelah Budaya Kerja Keras Tapi Gaji Pas-pasan
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2